Vladimir Putin: Barat Mengharapkan Rusia Runtuh

Sedang Trending 2 bulan yang lalu 43

Presiden Rusia Vladimir Putin memberi isyarat saat berbicara kepada media setelah KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Samarkand, Uzbekistan, Jumat, 16 September 2022. Vladimir Putin: Barat Mengharapkan Rusia Runtuh

Foto: AP/Sergei Bobylev/Pool Sputnik Kremlin

Menurut Putin, Barat lanjut mencari kesempatan untuk memberikan pukulan terhadap Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Presiden Rusia Vladimir Putin menuding Barat mengharapkan negaranya terpecah dan runtuh. Menurutnya, hal itu sudah terjadi sejak dasawarsa 1990-an.

Putin mengatakan, pada 1991, ketika Rusia dibekap krisis sosial akut, Barat mengharapkan Rusia runtuh. "Ini nyaris terjadi. Kami ingat tahun 1990-an yang mengerikan, tahun-tahun mengerikan kekurangan pangan dan keputusasaan. Tetapi Rusia tetap teguh, bangkit kembali, mendapatkan kembali kekuatan serta mengambil tempat yang layak di bumi lagi,” ucapnya dalam upacara pengesahan bergabungnya empat daerah Ukraina, merupakan Luhansk, Donetsk, Kherson, dan Zaporizhzhia ke Rusia, Jumat (30/9/2022), dikutip laman kantor warta Rusia, TASS.

Menurut Putin, sejak saat itu Barat lanjut mencari kesempatan untuk memberikan pukulan terhadap Rusia. "Mereka selalu memimpikan hal itu: memecah belah negara kita, membikin rakyatnya saling bermusuhan dan menjerumuskan mereka ke dalam kemiskinan dan kepunahan,” ujarnya.

"Mereka (Barat) tak dapat tenang karena ada negara hebat dan besar di bumi dengan wilayah, kekayaan alam, sumber daya, dan rakyatnya yang tak dapat serta tak akan pernah hidup menurut perintah orang lain," kata Putin.

Pada kesempatan itu, Putin menyampaikan terima kasih kepada empat daerah Ukraina, merupakan Luhansk, Donetsk, Kherson, dan Zaporizhzhia yang telah memilih bergabung dengan Rusia. "Dalam beberapa hari terakhir, orang-orang di Donetsk, Luhansk, Kherson dan Zaporizhzhia menganjurkan pemulihan persatuan bersejarah kita. Saya berterima kasih," ucapnya.

Pada 23 hingga 27 September lalu, Luhansk, Donetsk, Kherson, dan Zaporizhzhia menggelar referendum untuk bergabung dengan Rusia. Moskow mengklaim, sekeliling 98 persen pemilih dalam referendum setuju untuk bergabung.

Ukraina dan sekutu Barat-nya menolak hasil referendum tersebut. Mereka menilai referendum itu telah diatur sedemikian rupa hasilnya oleh Moskow. Kendati ditolak dan ditentang, Rusia tetap melanjutkan rencananya untuk “merebut” keempat daerah itu. Luhansk, Donetsk, Kherson, dan Zaporizhzhia mewakili 15 persen dari luas daerah Ukraina. Jika digabung, luasnya setara dengan luas Portugal. (Kamran Dikarma)

Saksikan Video Vladimir Putin: Barat Mengharapkan Rusia Runtuh Selengkapnya di bawah ini:
Please Subscribe our channel