Tingkatkan Kesejahteraan, UMKM Wonosobo Dapat Pelatihan Literasi Keuangan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu 23

REPUBLIKA.CO.ID, WONOSOBO -- Angka indeks pemberdayaan gender di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, baru mencapai 48,68 persen, termasuk paling rendah se-Jateng. Indeks literasi keuangan wanita Wonosobo juga  tergolong tetap rendah adalah 36,13 persen dibandingkan kaum laki-laki.

Menurut Sekretaris Bappeda Kabupaten Wonosobo, Agus Dwiatmojo, melalui peningkatan kapasitas literasi keuangan diharapkan bisa menyetarakan indeks pemberdayaan gender, khususnya bagi UMKM Komunitas Perempuan Pekerja Migran Desbumi Wonosobo.

Selain itu, diharapkan juga bisa meningkatkan taraf kesejahteraan, dan peningkatan kapasitas UMKM wanita ke arah yang lebih maju dan berkembang.

“Saya berharap, melalui peningkatan kapasitas sisi literasi keuangan dapat meningkatkan indeks pemberdayaan gender antara pria dan wanita di Wonosobo yang mengarah pada kesejahteraan bersama,” kata Agus dalam acara Pelatihan Literasi Keuangan dan Keuangan Inklusif di Hotel Kresna, Wonosobo.

Ia berharap Social Analysis and Research Institute (SARI Solo) yang bekerja sama dengan Migrant CARE Jakarta dapat memperluas mitranya, hingga menjangkau seluruh desa di Wonosobo, memberikan faedah secara ekonomi dan sosial.

Menurut Dwi, produk dan manajemen yang sudah dibangun oleh SARI, didorong bisa mengakses lembaga keuangan yang ada dalam memperbesar nilai produksi dan pemasaran, tingkat kesejahteraan, dan manfaat.

"Melalui pelatihan ini, kita harus dapat melakukan perubahan untuk kemanfaatan masyarakat Kabupaten Wonosobo, terlebih sudah menjadi duta UMKM, yang diharap bisa membaca kesempatan pasar bagus di dalam maupun luar negeri," ujar Agus.

Sementara itu, selaku fasilitator kegiatan, Wakil Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sains Alquran Wonosobo (UNSIQ), Romandhon menekankan, pentingnya literasi keuangan untuk upaya yang sudah berjalan. Dengan demikian pelaku UMKM dapat menjalin kerja sama dengan pihak ekternal seperti investor, pemasok, kreditur, dan sebagainya guna memperluas usahanya.

Menurut Romadhon, sejak awal berusaha, UMKM harus mempunyai perencanaan yang matang tentang analisis untung bisnis yang diperoleh. Juga penilaian proses bisnis dan pengetahuan strategi pemasaran 4P secara berkelanjutan, sehingga pengembangan usahanya akan melangkah lebih bagus dan terencana.

Sementara itu, Ketua SARI Tri Hananto menjelaskan, pelatihan ini sudah melangkah di tujuh desa di Wonosobo, adalah Rogojati dan Mergosari Kecamatan Sukoharjo, Lipursari Kecamatan Leksono, Gondang dan Kuripan Kecamatan Watumalang, Ngadikusuman, dan Sindupaten Kecamatan Kertek.

Pendampingan juga lanjut dilakukan setiap bulannya. Salah satunya melalui obrolan pengembangan usaha, mengingat akses permodalan dan pengelolaan keuangannya yang tetap buruk.

“Kendala di lapangan kami sering menemui akses permodalan, manajemen usaha, dan keuangan yang buruk, setiap bulan kami melakukan obrolan bagaimana membikin perencanaan tentang bisnis yang mereka kembangkan,” ujarnya.

Pelatihan diikuti 35 peserta dari perwakilan personil golongan MUIWO Desa Lipursari, golongan Bumi Adikusuma Desa Ngadikusuman, golongan Sindu Bumi Desa Sindupaten, golongan Bumi Berkah Abadi Desa Gondang, golongan Bumi Karya Mandiri Desa Kuripan, golongan Bumi Sejati Desa Rogojati, serta golongan Migran Bijak Desa Mergosari.

Selama pelatihan, peserta dibekali materi literasi keuangan dan keuangan inklusif, produk dan jasa lembaga keuangan perbankan, memilih produk dan jasa lembaga keuangan dan perbankan yang sesuai, serta langkah mengakses produk dan jasa lembaga keuangan dan perbankan.

“Direncanakan, 2023 mendatang, akan kami lakukan ekspansi daerah kemitraan, yang menyasar Kecamatan Sukoharjo, Leksono, Watumalang, dan Kertek sebagai kantongnya daerah purna migran," tegas dia.

Saksikan Video Tingkatkan Kesejahteraan, UMKM Wonosobo Dapat Pelatihan Literasi Keuangan Selengkapnya di bawah ini:
Please Subscribe our channel