Berita Terkini Nasional Dan Internasional 2020
Pantai Ini Berganti Pengunjung, Gara-Gara Wabah Virus Corona | Jakarta Ramai Lagi, Cegah Wabah Corona Mulai Terancam? | Pandemi Corona Bikin Terlalu Lama di Rumah, Awas Cabin Fever Kenali Gejalanya | PSBB DKI Diteken, Akses dari dan ke Jabodetabek Langsung Disetop? | 3 Penyebab Tingginya Kematian akibat Corona Versi IDI | Toyota Hadirkan Fortuner Edisi Epic Tampil Lebih Gagah dan Sporty | Di India, Penipu Manfaatkan Isu VIrus Corona untuk Menjual Patung | 1,2 Juta APD Produksi Bogor Diduga Lolos Ekspor ke Korsel | Sri Mulyani: Dana THR PNS dan TNI-Polri Sudah Disediakan | Dua Perwira Polri Ikut Berebut Posisi Direktur Penyelidikan KPK | | | | | | | | | | |
Home jadwal bola Skor bola Zodiakmu Hari Ini dairi  

Amatir Mengurus Niaga Gula | Berita Tempo Hari Ini

Oleh : Admin | on Kamis, 20 Februari 2020 07:00 WIB

Amatir Mengurus Niaga Gula | Berita Tempo Hari Ini

Pekerja memindahkan karung gula kristal putih dari kapal berbendera Thailand MV Chailan, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (26/1). Perum Bulog menargetkan kontrak impor gula akan sampai di Indonesia paling lambat Februari 2010. TEMPO/Dinul Mubarok

DOWNLOAD APP sumutkota.com

KELANGKAAN pasokan gula untuk kebutuhan industri pada awal 2020 makin menunjukkan pemerintah tak pernah becus mengurus komoditas bahan pangan strategis ini. Gagal mencapai target swasembada gula, kabinet ekonomi periode kedua Presiden Joko Widodo pun telat mengeluarkan perizinan impor. Keteledoran ini bisa menjadi persoalan besar bagi perekonomian.

Rencana impor gula telah diputuskan dalam rapat di Kementerian Koordinator Perekonomian, September 2019, pada era Menteri Darmin Nasution. Lazimnya, realisasi impor diagendakan pada akhir tahun. Kebutuhan impor kali ini cukup tinggi lantaran kemarau panjang pada 2019 diprediksi mengurangi rendemen tebu hingga kemudian menggerus produksi gula pada 2020. Gula impor semestinya mulai masuk Januari lalu untuk menambah stok awal tahun.

Kabinet berganti dan rencana impor tak kunjung berlanjut. Permohonan yang diajukan para importir sejak triwulan terakhir 2019 menumpuk di kantor Kementerian Perdagangan. Hingga Januari 2020, lampu hijau untuk mendatangkan gula dari negara lain tak kunjung keluar. Penyebabnya sungguh ajaib: izin belum juga diteken lantaran sepanjang bulan itu Menteri Perdagangan Agus Suparmanto pergi melanglang buana.

Dampaknya, pasokan gula menipis, hanya cukup untuk kebutuhan selama dua pekan. Industri makanan dan minuman berteriak kencang. Sebagian usaha kecil dan menengah berbahan baku gula di beberapa daerah berhenti berproduksi. Kelangkaan gula ini, jika tak segera diatasi, juga berpotensi mengganggu persiapan industri dalam mengantisipasi kenaikan permintaan pada Ramadan dan Lebaran, Mei nanti.

Indonesia memang tak bisa menghindar dari impor gula. Produksi dalam negeri hanya bisa menutup kurang dari separuh kebutuhan gula nasional, baik untuk konsumsi maupun industri, yang mencapai 5,5 juta ton per tahun. Sejak tahun lalu, pemerintah juga lempar handuk mengejar target swasembada gula pada 2020belakangan diundurkan ke 2024lantaran revitalisasi dan pembangunan pabrik gula baru tak kunjung terlaksana.

Pemerintah semestinya tak menggampangkan masalah rantai pasok gula. Minimnya stok telah mendongkrak harga gula kristal rafinasi dari biasanya Rp 8.000 menjadi Rp 9.000 per kilogram. Bisa diperkirakan, pengusaha tak lama lagi menaikkan harga produk mereka untuk mengkompensasi pembengkakan beban produksi. Pada sisi lain, lonjakan harga gula untuk bahan baku industri mulai menular ke gula untuk konsumsi, yang sebulan terakhir terus merangkak naik hingga mencapai Rp 14.500 per kilogram.

Kondisi ini, jika dibiarkan, bisa membuat upaya menjaga inflasi serendah mungkintahun ini ditargetkan hanya 3,1 persenberantakan. Harga komoditas strategis yang meroket sangat berisiko bagi perekonomian pada hari-hari ini. Sebab, Indonesia perlu menjaga konsumsi masyarakat tetap tinggi untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Gejolak ekonomi dunia telah membuat komponen pertumbuhan lain, yakni investasi dan perdagangan internasional, lesu darah sejak tahun lalu.

Presiden Jokowi harus mengevaluasi kinerja para menterinya. Sistem kuota impor, model perizinan yang membagi jatah pengusaha dalam mendatangkan komoditas pangan dari luar negeri, tak layak diteruskan. Skema ini terbukti hanya menjadi ladang korupsi. Pemerintah sebaiknya kembali berfokus mendorong produktivitas tebu rakyat dan peningkatan kapasitas penggilingan perusahaan pabrik gula. Tanpa keberpihakan pada petani, iklim usaha tebu rakyat tidak akan berkembang. Target baru swasembada gula lima tahun ke depan bisa jadi hanya gagah di atas kertas.



Amatir Mengurus Niaga Gula | Bang Naga | on Kamis, 20 Februari 2020 07:00 WIB | Rating 4.5
Cuplikan :Judul: Amatir Mengurus Niaga Gula
Description: Kementerian Perdagangan telat meneken izin impor gula yang diagendakan sejak akhir 2019. Berpotensi mengganggu perekonomian.
Alamat: https://sumutkota.com/tempo/read/1308956/amatir-mengurus-niaga-gula.html
Artikel Terkait

Bagikan Ke : Facebook Twitter Google+

CONTENT

Server Pulsa Online
» Schmeichel: MU Tak Bisa Buang De Gea Demi Henderson
» Pemkot Bandung Lakukan Evaluasi Waktu atas Rapid Test Corona
» Startup RI Buat Kelas Olahraga Online Agar Sehat Lawan Corona
» Suap Bupati Muara Enim, Anak Buah Dituntut 4 Tahun Penjara
» Pemerintahan Inggris Dipegang Menlu Selama PM Johnson Dirawat
» Sarung Tangan Michael Jackson Dilelang, Laku Rp1,6 M
» KPK Klaim Keterangan Jaksa Sri Perkuat Bukti Korupsi Nurhadi

Karir


Lirik


Nasional

» Gempa Bumi Hari Ini

menu


Tempo LIPUTAN DAIRI Contack Me Zodiak
© 2017 - 2020 sumutkota.com | Pers | V.DB: 3.50 | All Right Reserved

DMCA.com Protection Status

DOWNLOAD APP sumutkota.com




Page loads : seconds