Berita Terkini Nasional Dan Internasional 2020
Perjalanan Nurhadi dari Saksi, Jadi Tersangka, DPO, dan Ditangkap | Kasus Baru Corona di Korea Selatan Terkait 13 Gereja | Masih WFH? Waspadai Tanda Anda Kelelahan Bekerja | Rupiah Berpotensi Menguat, Diprediksi di Bawah 14.500 | Maskapai Mulai Beroperasi, Frekuensi Penerbangan Naik | Pemkab Bogor Tutup Tempat Wisata Bukit Alas Bandawasa yang Viral | Rapid Test Covid-19 Yogyakarta Sasar Pedagang, Ini Alasannya | 3 Berita Persib Hari Ini: Igbonefo, Abdul Aziz, Robert Alberts | 5 Manfaat Penting Pistachio Sumber Antioksidan dan Protein | Cerita Soal 4 Anggota Brimob Pengawal Nurhadi | Zuckerberg - Trump Bicara Lewat Telepon, Soal Apa? | Tujuh Remaja Ditangkap di Pulogadung, Diduga Berniat Tawuran | Namanya Dicatut untuk Penggalangan Dana, Choi Siwon Ingatkan Fan | Aturan New Normal Masjid, Jaga Jarak hingga Wudu di Rumah | Kasus George Floyd, Mayweather Jr Akan Tanggung Biaya Pemakaman | Buka Lagi Sekolah, Ada Tahap Pra New Normal di Yogyakarta | DFB Akan Selidiki Aksi Solidaritas Pemain buat George Floyd | Marcus Rashford Ikut Dukung Keadilan Untuk George Floyd | IHSG Diprediksi Menguat, Ini Rekomendasi Saham Pilihan | Warga Bogor Bikin Dapur Umum bagi Keluarga Terdampak Covid-19 | Nurhadi Pernah Berusaha Menghilangkan Barang Bukti | Kasus Baru Virus Corona di Arab Saudi Bertambah 1.881 | Shop&Drive Layani Penggantian Aki dan Pelumas di Rumah, Gratis | Pilot Garuda di-PHK, Dirut: Ini Keputusan yang Berat | Karakter Zodiak Paling Percaya Diri dan Misterius Versi Tinder | Agar Aman dari Orang Ketiga, Ini Tips Pernikahan ala Nur Asia Uno | Denny Indrayana Jelaskan Alasan Jokowi Sulit Dimakzulkan | Kasus Corona Berkurang, Kafe dan Toko di Turki Mulai Buka | Lockdown, Pasien di India Konsultasi dengan Dokter Secara Online | Suara Klub Liga Inggris Terbelah, Lanjutan Kompetisi Terancam | SUV Buatan Cina Ini Punya Bodi Boxy Tantang Toyota Land Cruiser | Pengacara Sebut Alasan Dwi Sasono Ajukan Rehabilitasi | Dana PEN untuk BUMN dan B-30, Politikus Gerindra: Menggelikan | Bursa Transfer: Juventus Siap Barter Bernardeschi dan Jorginho | Muhammadiyah Anggap Ade Armando Serang Kehormatan Din Syamsudiin | Mahathir Sebut Pemimpin Partai Lupakan Janji Lawan Korupsi | Menyemai Benih Lokomotif Ekonomi | Stop Pemberangusan Suara Kritis | Bos RB Leipzig Tak Bisa Tahan Langkah Timo Werner ke Liverpool | Hari Ini, PSSI dan Klub Bahas Nasib Kompetisi Liga 1 dan Liga 2 | Manfaat Pitera, Air Beras untuk Kulit Cegah Keriput Hingga Penuaan Dini | Tampilan Honda Freed Versi Modulo Agresif, Interior Mewah | Dukung George Floyd, 4 Pemain Bundesliga Terancam Hukuman | Cara Pelatih Persib Bandung Memaknai New Normal | 7 Jenis Pekerjaan yang Muncul Akibat Pandemi Corona | Wagub DKI: Potensi Penularan Corona Saat New Normal Lebih Tinggi | 3 Pejabat yang Minta New Normal Sekolah Ditunda karena Pandemi | Penasihat Trump Berbeda Soal Demonstrasi Rusuh George Floyd | Ketegangan di AS Meningkat, Harga Emas Diprediksi Kian Melesat | Pemprov DKI Belum Siapkan Skema New Normal di Sekolah | Din Syamsuddin Sebut 3 Syarat Pemakzulan Presiden, Apa Saja? | Iran Antisipasi Gelombang Kedua Covid-19, Kenapa? | Hasil Liga Jerman: Cologne Vs Leipzig 2-4, Timo Werner Cetak Gol | Jadwal Liga Italia: FIGC Bicara Peluang Laga Dihadiri Penonton | New Normal Salat di Masjid, Ini Protokol DMI | Sutan Zico Nikmati Pemusatan Latihan Virtual Timnas U-19 | Filipina Aktif Pasca Pelonggaran Lockdown Corona, seperti Apa? | Nurhadi dan Jejak Perkara di Mahkamah Agung | Anies Baswedan Libatkan Pakar Bahas Masa Transisi New Normal | Penumpang Sepi, Wings Air Belum akan Terbang ke Aceh | Proyek Konstruksi Mangkrak, Kinerja BUMN Karya Diprediksi Melorot | Kenormalan Baru, DMI Perbolehkan Buka Masjid Kembali | Pengedar yang Suplai Ganja untuk Dwi Sasono Masih Diburu Polisi | Menpan RB Meminta ASN Beradaptasi dengan New Normal dalam Bekerja | Berinvestasi di Era New Normal, Instrumen Apa yang Cocok? | Akhir Pelarian Nurhadi dan Cerita Uang Diguyur di Kloset | New Normal, Wagub DKI Ingatkan Warga Tak Euforia Keluar Rumah | Kata BMKG, Cuaca Jakarta Cerah Sepanjang Hari Ini | Investor Mulai Optimistis, Bursa Saham Eropa Menguat | Nurhadi Tertangkap, KPK: Bukti Bahwa Kami Terus Bekerja | Dikabarkan PHK Sejumlah Pilot, Ini Penjelasan Bos Garuda | Tangkap Nurhadi dan Menantunya, KPK Gandeng Polri | Pengemudi Ojek Online Batalkan Rencana Demo di Depan Istana | KPK Tangkap Nurhadi Eks Sekretaris MA | Ade Armando Jelaskan Postingan Muhammadiyah Gulirkan Pemakzulan | Din Syamsuddin Bicara Tiga Syarat Pemakzulan Presiden | Denny Indrayana: Secara Politik Jokowi Sulit Dimakzulkan | 5 Zodiak yang Terlahir jadi Orang Kaya, Pandai Cari Uang | Kantor Polisi di Kalimantan Selatan Diserang, Satu Personel Tewas | Polisi New York Berlutut untuk Solidaritas kepada George Floyd | TNI Tanggapi Cuitan Veronica Koman soal Pemberitaan Media | Waspada Virus Corona Menempel pada Kacamata, Bersihkan dengan Ini | Gaya Zaskia Gotik saat Menikah secara Negara, Gamis Dusty Pink | Dwi Sasono Ditangkap, Widi Mulia Matikan Kolom Komentar IG Mereka | 60 Persen Peserta Mandiri BPJS Kesehatan Terancam Tak Bisa Bayar | | | | | | | | | | |
Home jadwal bola Skor bola Zodiakmu Hari Ini dairi  

Ada Cabe Pelangi dari IPB, Rasanya 5 Kali Lebih Pedas | Berita Tempo Hari Ini

Oleh : Admin | on Rabu, 9 Oktober 2019 17:18 WIB

Ada Cabe Pelangi dari IPB, Rasanya 5 Kali Lebih Pedas | Berita Tempo Hari Ini

Cabe Pelangi inovasi Profesor Muhammad Syukur, ahli agronomi dari IPB. (ipb.ac.id)

DOWNLOAD APP sumutkota.com

SUMUTkota.com, Jakarta - Jika Anda penyuka masakan pedas dan sering terganggu harga cabe yang gampang melambung, kenapa tidak mencoba menanamnya sendiri sekaligus menjadikannya hiasan rumah.

Adalah Profesor Muhammad Syukur, ahli agronomi dari IPB, menemukan varietas cabe unik, yang disebut Cabe Pelangi. Dinamai begitu, karena dalam satu pohon warna buahnya bermacam-macam: merah, kuning dan ungu.

"Cabai ini bisa dikonsumsi dengan kelebihan memiliki tingkat kepedasan lebih tinggi dibanding cabai sejenis dari varietas lain dan bisa juga menjadi hiasan di rumah dan perkantoran," tulis laman IPB, yang dikutip Rabu, 9 Oktober 2019.

Cabe pelangi ini memiliki sejumlah keunggulan di antaranya mudah ditanam, tidak memerlukan sinar matahari langsung, bisa ditanam pada suhu ruangan berbeda (aman dipindah-pindahkan ke tempat yang berbeda suhunya), bisa dipanen tiga hingga enam bulan, dan memiliki tingkat kepedasan antara 1000-1600 ppm, sedangkan cabe biasa hanya 200 ppm.

Bagian Genetika dan Pemuliaan Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB sejak 2003 telah menghasilkan banyak varietas cabai.  Hingga kini telah dilepas dan didaftarkan di Kementerian Pertanian Indonesia sebanyak 23 varietas cabai besar, cabai semikeriting, cabai keriting dan cabai hias serta tomat.

Khusus untuk cabai hias, ada tujuh varietas yaitu cabai Syakira, cabai Lembayung, cabai Jelita, cabai Namira, cabai Ayesa, cabai Ungara dan cabai Seroja. Masing-masing cabai memiliki ciri berbeda tapi satu spesies yakni Capsicum Annuum yang umum dikonsumsi di Indonesia.

Cabai Syakira memiliki ciri-ciri berupa buah awal berwarna kuning kemudian hijau dan terakhir berwarna merah. Cabai Jelita, pohonnya lebih rimbun dan pendek dan memiliki degradasi warna yang mirip dengan cabai Syakira.

Cabai Namira dapat dilihat dari buahnya yang menumpuk pada batang, berbeda dengan cabai lainnya. Cabai Ayesa memiliki buah yang cenderung bulat dan berwarna ungu. Sedangkan cabai Lembayung dan cabai Ungara memiliki ciri bentuk cabai sedikit membulat dan berwarna ungu pekat (mengandung antosianin). Cabai Seroja memiliki 8 warna buah berbeda dan tingkat kepedasaannya cukup tinggi.  

Untuk varietas cabai hias ini memiliki tingkat kepedasan sekitar 1000 ppm. Jauh berbeda dengan cabai pada umumnya yang hanya 200 ppm. Yang paling pedas adalah cabai Ungara, bisa sampai 1600 ppm.

Untuk perawatannya sendiri, cabai ini tidak sesulit merawat tanaman cabai biasa. Tanaman ini mampu ditanam pada suhu ruangan dan tidak memerlukan sinar matahari langsung. Ini berbeda dengan cabai lain yang kebanyakan harus ditanam di ruangan terbuka.  

Cabai pelangi lebih mudah ditanam. Kita bisa menggunakan media tanam yang ditambahkan abemix (disiramkan 2 kali dalam seminggu). Buahnya bisa dipanen antara tiga hingga enam bulan kemudian.  Saat ini, benih cabai pelangi sudah dipasarkan di seluruh Indonesia. 

  

IPB.AC.ID



Ada Cabe Pelangi dari IPB, Rasanya 5 Kali Lebih Pedas | Bang Naga | on Rabu, 9 Oktober 2019 17:18 WIB | Rating 4.5
Cuplikan :Judul: Ada Cabe Pelangi dari IPB, Rasanya 5 Kali Lebih Pedas
Description: Profesor Muhammad Syukur, ahli agronomi dari IPB, menemukan varietas cabe unik, yang disebut Cabe Pelangi. Lima Kali lebih pedas dari cabe biasa.
Alamat: https://sumutkota.com/tempo/read/1257696/ada-cabe-pelangi-dari-ipb-rasanya-5-kali-lebih-pedas.html
Artikel Terkait

Bagikan Ke : Facebook Twitter Google+

CONTENT

Server Pulsa Online
» VIDEO: Hoaks Nyamuk Sebarkan Virus Corona
» Masyarakat Mengeluh Sulit Isi Token Listrik
» Wabah Ebola Kembali Merebak di Kongo
» Liverpool Berlutut, Tanda Simpati untuk George Floyd
» Drama KPK Memburu Jejak Nurhadi Sampai ke Rumah Mertua
» Toko Komik AS Jadi Korban Vandalisme saat Demo George Floyd
» Samsung Diduga Bakal Bikin HP Pakai Baterai Lepas Pasang

Karir


Lirik


Nasional

» Gempa Bumi Hari Ini

menu


Tempo LIPUTAN DAIRI Contack Me Zodiak
© 2017 - 2020 sumutkota.com | Pers | V.DB: 3.50 | All Right Reserved

DMCA.com Protection Status

DOWNLOAD APP sumutkota.com




Page loads : seconds