Berita Terkini Nasional Dan Internasional 2019
Mom Shaming pada Ibu Hamil Berdampak Negatif pada Kesehatan Janin | Yanto Basna Bicara Aksi Suporter dan Nasib Timnas Indonesia | Bomber H-6K Cina Disebut Salinan Tu-160 Rusia, Apa Bedanya? | Periode Kedua Jokowi, Ini Harapan Menteri Darmin | Pangeran William dan Kate Middleton Bertemu dengan PM Khan | OTT KPK Ungkap Kode Mangga Manis Suap Bupati Indramayu | Buntut Insiden Rasis Vs Inggris, Bos Sepak Bola Bulgaria Mundur | 2021, Toyota dan Lexus Akan Luncurkan 3 Mobil Listrik | Tim Bulu Tangkis Junior Peraih Piala Suhandinata Disambut Meriah | Ini Kata Pelatih Vietnam Usai Taklukkan Timnas Indonesia di Bali | Kiwi Kaya Nutrisi, Rasakan Manfaatnya untuk Asma dan Jantung | Bosan Miskin, Ini yang Dilakukan Moeldoko Untuk Mengubah Nasib | Begini Kondisi Balita Korban Aniaya PRT Remaja di Depok | Sekolah SMP dan SMA California Mulai Jam Belajar Lebih Siang | Yanto Basna Disorot Saat Timnas Keok, Simon McMenemy Membelanya | Indonesia Ditekuk Vietnam, Irfan Bachdim: Kami Harus Bercermin | Rilis Pekan Depan, Realme XT Dibekali Fitur Dark Mode? | Rumah DP 0 Rupiah Tak Dirasakan Manfaatnya, DPRD DKI Sarankan Ini | Teriakan 'Simon Out' Terus Bergema, Begini Reaksi Simon McMenemy | Hasil Kualifikasi Euro 2020: Spanyol Lolos, Italia Juara Grup | Tak Mau Rugi, Perempuan di Taiwan Goyang Mesin Capit Boneka | Ditahan KPK, Bupati Indramayu Minta Maaf | Faisal Basri: Performa Luhut dan Rini Tak Prima di Kabinet Jokowi | Riset: Polusi Udara di Cina Memicu Keguguran | Kesal Dimarahi Majikan, PRT Remaja Aniaya Balita di Kota Depok | Satu Rumah Sakit, Kivlan Zen Kirim Bunga dan Doa untuk Wiranto | Militer Rusia Mulai Duduki Suriah Utara Menyusul Invasi Turki | Kurangi Limbah, Perusahaan Bir Denmark Kembangkan Botol Kertas | Gerindra Bakal Kembalikan Posisi Sandiaga Sebagai Wakil Prabowo? | Selfie di Toilet, Pasangan Pengantin India Bisa Terima Rp 10 Juta | London Larang Aktivis Lingkungan Extinction Rebellion Berdemo | Pelecehan Seksual di KRL Depok: Korban Teriak, Pelaku Ditahan | OTT KPK di Kalimantan Timur, Kepala BPJN Balikpapan Dibekuk | Pejabat Militer AS Malu Trump Tidak Bela Kurdi dari Invasi Turki | 2 Tahun Pimpin Jakarta, Kata Anies Soal Gubernur Rasa Presiden | Volkswagen Tunda Investasi Rp 20 T karena Invasi Turki ke Suriah | Polri: Teroris Siap Aksi Bunuh Diri di Hari Pelantikan Presiden | Adik Hanum Rais Sebut Penusukan Wiranto Tak Sesuai Ajaran Islam | Akbar Tandjung Bocorkan Calon Kabinet Jokowi Jilid II | Gerindra Siapkan Dua Calon Menteri Kabinet Jokowi | Disebut Anies Baswedan Giring Opini, PSI : Gubernur Anggap Receh | Kabinet Jokowi Jilid II, Menteri dari Profesional Dinilai Loyal | 2 Tahun Anies Pimpin Jakarta, Survei: Rumah DP Nol Tak Bermanfaat | Tahapan Seleksi CPNS, MenpanRB: Mulai 25 Oktober | Kabinet Jokowi Jilid II: PKB Minta Gerindra Dipikirkan Belakangan | OTT KPK Bupati Indramayu: Februari Dilantik, Oktober Ditangkap | Waspada Bakar Modal Uang Elektronik | Mom Shaming pada Ibu Hamil Berdampak Negatif pada Kesehatan Janin | Yanto Basna Bicara Aksi Suporter dan Nasib Timnas Indonesia | Bomber H-6K Cina Disebut Salinan Tu-160 Rusia, Apa Bedanya? | Periode Kedua Jokowi, Ini Harapan Menteri Darmin | Pangeran William dan Kate Middleton Bertemu dengan PM Khan | OTT KPK Ungkap Kode Mangga Manis Suap Bupati Indramayu | Buntut Insiden Rasis Vs Inggris, Bos Sepak Bola Bulgaria Mundur | 2021, Toyota dan Lexus Akan Luncurkan 3 Mobil Listrik | Tim Bulu Tangkis Junior Peraih Piala Suhandinata Disambut Meriah |
Home jadwal bola Skor bola Zodiakmu Hari Ini dairi  

Jokowi Minta Pengesahan RKUHP Ditunda, Pakar: Belum Terlambat | Berita Tempo Hari Ini

Oleh : Admin | on Minggu, 22 September 2019 10:27 WIB

Jokowi Minta Pengesahan RKUHP Ditunda, Pakar: Belum Terlambat | Berita Tempo Hari Ini

Ratusan Mahasiswa menggelar aksi menolak RUU KUHP dan UU KPK yang baru di deoan gerbang pintu gedung DPR/MPR, Jakarta, Kamis, 19 September 2019. Dalam aksi tersebut mereka menolak RKUHP dan UU KPK yang baru disahkan. TEMPO/M Taufan Rengganis

SUMUTkota.com, Jakarta - Sejumlah pakar hukum tata negara menyebut Presiden Joko Widodo atau Jokowi belum terlambat meminta pengesahan RKUHP ditunda.

Pakar Hukum Tata Negara UGM, Zainal Arifin Mochtar menjelaskan, berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, ada lima tahap pembentukan UU. Yakni; pengajuan, pembahasan, persetujuan, pengesahan dan pengundangan.

"Pengajuan dan pembahasan memang sudah selesai, tetapi persetujuan dan pengesahan harus di paripurna. Nah, kan paripurna tanggal 24 September, artinya memang belum telat. Presiden masih bisa menunda," ujar Arifin saat dihubungi Tempo pada Ahad, 22 September 2019.

Pakar Hukum Tata Negara, Bivitri Susanti menambahkan, dalam Pasal 69 ayat (3) UU 12/2011 disebutkan, dalam hal RUU tidak mendapat persetujuan bersama antara pemerintah dan DPR, maka RUU tersebut bisa batal disahkan dalam periode ini.

"Jadi, nanti waktu paripurna, pihak pemerintah bisa menyatakan ketidaksetujuannya dan itu akan membuat RUU tidak jadi disahkan menjadi UU. Dan saya yakin, presiden juga sudah berbicara dengan partai-partai koalisinya untuk juga meminta penundaan," ujar pendiri Pusat Studi Hukum dan Kebijakan ini, saat dihubungi terpisah.

Jumat lalu, Presiden Jokowi meminta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menunda pengesahan revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau RKUHP. Padahal, Jokowi mengutus Menkumham Yasonna Laoly membahas RKUHP bersama DPR dan telah menghasilkan keputusan; membawa RKUHP ke pembahasan tingkat dua dalam rapat paripurna untuk segera disahkan.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyebut Jokowi terlambat mengambil keputusan, karena rapat bamus sudah digelar dan jadwal paripurna sudah ditetapkan pada Selasa, 24 September 2019. "Sudah terlambat," ujar Fahri Hamzah lewat pesan singkat kepada Tempo pada Jumat malam, 20 September 2019.

Sejumlah pakar menyebut Jokowi belum terlambat. Pakar Hukum Universitas Andalas Feri Amsari mengatakan, jika pemerintah dalam hal ini presiden tidak sepakat pengesahan RKUHP disahkan periode ini, maka RKUHP bisa batal disahkan.

"Di UU administrasi pemerintahan, Presiden juga bisa saja menerbitkan surpres baru yang berisi pencabutan persetujuan (pengesahan RUU). Dengan surpres itu, dari sekarang juga bisa dicabut," ujar Feri Amsari saat dihubungi, Jumat lalu.

Kalangan aktivis  belakangan ini mengecam  RKUHP  karena terlalu  banyak mengatur masalah  pribadi dan urusan yang remeh.  Hal ini  hanya akan mewujudkan  negara yang berkuasa mutlak  atas penduduk atau  negara yang ditakuti oleh rakyatnya.

 



Jokowi Minta Pengesahan RKUHP Ditunda, Pakar: Belum Terlambat | Bang Naga | on Minggu, 22 September 2019 10:27 WIB | Rating 4.5
Cuplikan :Judul: Jokowi Minta Pengesahan RKUHP Ditunda, Pakar: Belum Terlambat
Description: Sejumlah pakar hukum mengatakan pernyataan Jokowi yang meminta pengesahan RKUHP ditunda belum terlambat.
Alamat: https://sumutkota.com/tempo/read/1250843/jokowi-minta-pengesahan-rkuhp-ditunda-pakar-belum-terlambat.html
Artikel Terkait

Bagikan Ke : Facebook Twitter Google+

CONTENT

» Alpukat Hawaii Pecahkan Rekor Terberat di Dunia
» Spanyol Lolos ke Piala Eropa 2020 Secara Dramatis
» IMF Pangkas Lagi Proyeksi Laju Ekonomi Global Jadi 3 Persen
» Ma'ruf Sebut Rangkap Ketum MUI dan Wapres Bukan Pelanggaran
» Ledakan Besar Hantam Galaksi Bimasakti 3,5 Juta Tahun Lalu
» Jaksa Agung: Kami Sungguh-sungguh Tangani Kasus Wiranto
» Putin Bahas Investasi dan Luar Angkasa di Abu Dhabi

Karir


Lirik

  • AYDI – Kita Indonesia
  • The Virgin – Diakah Jodohku
  • Abiel Jatnika – Kapalang Nyaah
  • Michiel Eduard – Kau Telah Pergi (OST ROMPIS 2018)
  • Hary – Biarkan Ku Pergi
  • Anggun – Siapa Bilang Gak Bisa
  • Smash – Fenomena
  • Adipati – Lempar Batu Sembunyi Tangan
  • LaoNeis Band – Insya Allah
  • Michael Mario – Jangan Menolak

  • Nasional

    » Gempa Bumi Hari Ini

    menu


    Tempo LIPUTAN DAIRI QUICK COUNT PILPRES Zodiak
    © 2017 - 2019 sumutkota.com | Pers | V.DB: 3.50 | All Right Reserved

    DMCA.com Protection Status


    Page loads : seconds