Berita Terkini Nasional Dan Internasional 2020
Kenali 10 Penyebab Sakit Kepala, Ada Hipertensi Dan Kurang Tidur | Jokowi Minta Kurva Covid-19 Mulai Turun Pada Mei, Ini Faktanya | New Normal, Bima Arya Prioritaskan Dibukanya Kembali Rumah Ibadah | Lockdown, Restoran Ini Gulung Tikar Setelah 84 Tahun Beroperasi | Bos Baru TVRI Surati Sri Mulyani Soal Rapel Tukin Karyawan | Liga Jerman: Dortmund Menang Besar, Jadon Sancho Torehkan 2 Rekor | Kemendagri Tegaskan Tak Ada Larangan ASN Naik Ojek Online | PBNU Terbitkan Protokol New Normal di Masjid, Simak Isinya | Risiko Kebiasaan Minum Teh saat Hamil, Awas Kelebihan Kafein | Ulang Tahun ke-50, Erick Thohir: Penuh Makna dan Istimewa | Ketua KOI Tuntut Kreativitas Pembinaan Atlet di Tengah New Normal | Pemerintah Sebut Belum Ada Rencana Buka Sekolah Sampai September | MotoGP: Jorge Lorenzo Juarai Balapan Virtual di Silverstone | Bersiap New Normal, Warga Jaksel Gotong Royong Bersihkan Masjid | Hingga H+5 Lebaran, 362 Ribu Kendaraan Bergerak ke Arah Jakarta | Apartemen Bintang Manchester City Kebobolan, 3 Arloji Mewah Raib | 3 Bintang Bundesliga Ikut Tuntut Keadilan Untuk George Floyd | Bundesliga: Jadon Sancho Hat-trick, Borussia Dortmund Menang 6-1 | Pemain Muda Fiorentina Ini Ungkap Alasannya Tolak Liverpool | Nilai Syahrini Pojokkan Luna Maya, Netizen Beri Dukungan | Terawan Copot Mantan Ketua MKEK IDI sebagai Dekan di UPN Veteran | Menghadapi Mike Tyson, Anthony Joshua: Menang Pun Akan Diejek | Awan Besar Berjajar Sepanjang Pantai Jawa, Ini Penjelasan BMKG | Toyota Fortuner 2020 Pakai Mesin Baru Tenaga Melonjak Signifikan | Ikatan Dokter Anak Anjurkan Sekolah Ditutup Hingga Desember 2020 | Dicopot Terawan, Masa Jabatan Dekan FK UPN Veteran Masih 2 Tahun | Politikus DPR Mulyadi Curiga Kasusnya Terkait Pilkada 2020 | 3 Jawaban WHO tentang Kebiasaan Merokok dan Infeksi Covid-19 | Syahrini dan Reino Barack akan Laporkan Akun Penggemar Luna Maya? | | | | | | | | | | |
Home jadwal bola Skor bola Zodiakmu Hari Ini dairi  

Alasan Pertahanan Canggih Kilang Saudi Bisa Ditembus Drone | Berita Tempo Hari Ini

Oleh : Admin | on Minggu, 22 September 2019 05:31 WIB

Alasan Pertahanan Canggih Kilang Saudi Bisa Ditembus Drone | Berita Tempo Hari Ini

Sisa-sisa rudal yang dikatakan pemerintah Arab Saudi digunakan untuk menyerang fasilitas minyak Saudi Aramco, ditampilkan selama konferensi pers di Riyadh, Arab Saudi 18 September 2019. [REUTERS / Hamad I Mohammed]

DOWNLOAD APP sumutkota.com

SUMUTkota.com, Jakarta - Banyak pertanyaan tentang bagaimana Arab Saudi, pembelanja pertahanan ketiga tertinggi di dunia dan pemilik fasilitas minyak terbesar di dunia, bisa menjadi korban serangan drone dan rudal yang memusnahkan setengah dari produksi minyak mentahnya dalam satu hari.

Saudi pada tahun 2018 menghabiskan sekitar US$ 67,6 miliar untuk senjata - ketiga setelah AS dan Cina.

Target Seperti Pohon Natal

Secara sederhana, pertahanan kerajaan dirancang untuk berbagai jenis ancaman. Drone terbang rendah dan relatif murah serta rudal jelajah yang konon telah digunakan dalam serangan hari Sabtu adalah tantangan yang cukup baru, dan pada kenyataannya banyak negara tidak siap untuk melawan. Di sisi lain, kilang minyak besar-besaran adalah sasaran empuk.

"Aset minyak Saudi rentan karena alasan sederhana bahwa ketika terbang di atasnya di malam hari, mereka menonjol dengan latar belakang gurun seperti sebuah pohon Natal," ujar Michael Rubin, mantan pejabat Pentagon dan pakar Timur Tengah di American Enterprise Institute, kepada CNBC baru-baru ini.

"Ini berarti bahwa musuh tidak memerlukan drone berpemandu GPS berteknologi tinggi, meskipun mereka mungkin memilikinya, tetapi juga dapat menggunakan drone teknologi yang relatif lebih rendah."

Dua puluh lima drone dan rudal digunakan dalam serangan Sabtu terhadap fasilitas raksasa minyak negara Saudi Aramco Abqaiq dan Khurais, kata kementerian pertahanan Saudi. Sementara serangan itu diklaim oleh pemberontak Houthi Yaman, sebagaimana dilaporkan Digital Trends, pejabat Saudi dan AS mengatakan Iran bertanggung jawab. Namun, tuduhan itu dibantah Teheran.

Dave DesRoches, seorang profesor dan anggota militer senior di National Defense University di Washington, DC, mengatakan kepada CNBC: "Jika sebuah serangan adalah ancaman yang berbeda dari yang dirancang oleh sistem – yaitu rudal jelajah ketinggian rendah dan bukan sebuah rudal balistik berketinggian tinggi - maka sistem tidak akan mencegatnya."

Pertahanan Udara Arab Saudi Saat Ini 'Tidak Relevan'

Arab Saudi menawarkan gudang peralatan pertahanan udara yang canggih dan mahal. Mereka memiliki sistem pertahanan rudal Patriot buatan Amerika, meriam pertahanan udara Skyguard buatan Jerman, dan sistem anti-pesawat mobile Shahine Prancis, dan mereka akan segera memiliki pencegat THAAD (terminal high altitude area defense) dari Lockheed Martin yang sangat canggih.

Tetapi ini pada dasarnya tidak penting, kata Jack Watling, seorang ahli perang darat di Royal United Services Institute yang menjadi penasih militer Teluk.

"Patriot agak tidak relevan," kata Watling kepada CNBC. "Rekam jejak serangan rudal Patriot dalam bentuk apa pun cukup buruk, mereka sangat jarang mencapai sasaran." Masalah lain, katanya, adalah Patriot dirancang untuk menembak jatuh rudal balistik ketinggian tinggi, bukan rudal jelajah dan drone yang digunakan dalam serangan hari Sabtu.

“Ini adalah rudal jelajah terbang rendah. Mereka datang jauh di bawah zona bidik untuk Patriot. Jadi Anda tidak akan mencoba untuk memukul mereka dengan Patriot. "Dalam peran utamanya menembak jatuh pesawat, Watling mencatat, sistem ini memang melakukan "dengan sangat baik."

Kecuali bahwa tidak ada sistem yang dirancang untuk mencegat rudal jelajah, dan terhadap target seukuran pesawat, radar Shahine dan Skyguard memiliki jangkauan deteksi 20 km. Terhadap target yang lebih kecil, seperti drone atau rudal jelajah, jangkauan deteksi (& waktu peringatan) lebih pendek.

Foto-foto udara yang ditemukan pada platform sumber terbuka menunjukkan tiga baterai Skyguard ditempatkan di sekitar fasilitas minyak Abqaiq yang ditargetkan, yang merupakan senjata anti-pesawat kaliber besar dengan penembakan lambat, serta baterai Shahine buatan Prancis dari tahun 1980-an.

Meskipun dimaksudkan untuk melindungi fasilitas-fasilitas ini, Skyguards juga tidak banyak digunakan. Watling mengatakan: "Baterai di sekitar situs pertama-tama bukan sistem yang tepat untuk rudal jelajah, dan tidak ada bukti bahwa Saudi telah dilatih menggunakan peralatan mereka.."

Saudi Mayoritas Lalai

Untuk menambah kegagalan Saudi, personel militer mereka mungkin juga tidak memenuhi tugas itu, menurut Watling dan beberapa ahli lain yang berbicara kepada CNBC secara anonim.

“Saudi memiliki banyak peralatan pertahanan udara yang canggih. Mengingat operasi  di Yaman, sangat kecil kemungkinan prajurit mereka tahu cara menggunakannya,” kata Watling. Dia menambahkan bahwa pasukan kerajaan memiliki "kesiapan yang rendah, kompetensi rendah, dan sebagian besar lalai."

"Jadi, jika Anda seorang komandan baterai yang melindungi ladang minyak yang Anda tidak pernah percaya akan diserang, seberapa hati-hati Anda mengawasi radar Anda? Saya akan terkejut jika mereka bahkan menyalakan radar mereka. "

Bahkan mereka yang memiliki pengetahuan teknis, Watling menambahkan, "tidak mungkin cukup perhatian terhadap kendaraan udara tak berawak kecil atau rudal terbang rendah di radar mereka ... dan cukup cepat untuk mengkoordinasikan tindakan pencegahan."

Dalam pertahanan militer Saudi, infrastruktur minyak di kerajaan berada di bawah Kementerian Dalam Negeri (MOI), bukan militer, kata Becca Wasser, seorang analis keamanan dan pakar permainan perang di RAND Corp di Washington, D.C.

"Sebagian besar penjualan senjata A.S. ke KSA, khususnya di pertahanan udara, ke militer," tulisnya di Twitter, Senin. "MOI, setahu saya, tidak cocok untuk peran ini karena mereka cenderung fokus pada ancaman domestik."

Untuk mencapai titik pertahanan yang bisa melawan serangan di masa depan seperti hari Sabtu, Saudi membutuhkan sistem pertahanan udara jarak pendek yang lebih baik dan radar pencarian dan lintasan tingkat rendah, kata para ahli. "Yang lebih penting," tambah Watling RUSI, "mereka akan membutuhkan tentara yang kompeten dalam menggunakannya, dan penuh perhatian."

CNBC | DIGITAL TRENDS



Alasan Pertahanan Canggih Kilang Saudi Bisa Ditembus Drone | Bang Naga | on Minggu, 22 September 2019 05:31 WIB | Rating 4.5
Cuplikan :Judul: Alasan Pertahanan Canggih Kilang Saudi Bisa Ditembus Drone
Description: Dua puluh lima drone dan rudal digunakan dalam serangan Sabtu pekan lalu terhadap fasilitas raksasa minyak negara Saudi.
Alamat: https://sumutkota.com/tempo/read/1250633/alasan-pertahanan-canggih-kilang-saudi-bisa-ditembus-drone.html
Artikel Terkait

Bagikan Ke : Facebook Twitter Google+

CONTENT

Server Pulsa Online
» Suara Michelle-Barack Obama soal Rasialisme dan George Floyd
» Sutradara Film 'Parasite' Gelar Bincang Online Pekan Depan
» Van Dijk Pernah Nyaris Meninggal Sebelum Gabung ke Liverpool
» Advokat Alumni UII Akan Pidanakan Peneror Guru Besar FH UII
» Buntut Aksi Rusuh, Trump Masukkan Antifa ke Daftar Teroris
» Ronaldo Brasil Tak Masukkan CR7 ke Daftar Lima Pemain Terbaik
» KAHGAMA Desak Polisi Usut Teror ke Mahasiswa UGM-Dosen UII

Karir


Lirik


Nasional

» Gempa Bumi Hari Ini

menu


Tempo LIPUTAN DAIRI Contack Me Zodiak
© 2017 - 2020 sumutkota.com | Pers | V.DB: 3.50 | All Right Reserved

DMCA.com Protection Status

DOWNLOAD APP sumutkota.com




Page loads : seconds