Berita Terkini Nasional Dan Internasional 2019
DKI Jawab Ombudsman, Bina Marga: Potong Kabel Trotoar Jalan Terus | Jokowi Minta Perangkat Negara Solid Tangani Karhutla | Alasan Bogor Tak Bisa Aktif Mendata Bangunan Liar Kawasan Puncak | DPR dan Pemerintah Bakal Bawa Revisi UU KPK ke Paripurna | Indonesia Berpeluang Raih Medali di Kejuaraan Dunia Wushu | Laga Perdana Kualifikasi Piala AFC U-16, Pemain Timnas U-16 Gugup | Peringkat Empat di MotoGP San Marino, Ini Kata Valentino Rossi | Jadwal Timnas U-16: Senin Hari Ini Vs Filipina di Stadion Madya | Relawan Jokowi Konsultasi Soal Sampul Majalah Tempo ke Dewan Pers | Gerilya PDIP Pilih Lima Nama Capim KPK Sebelum Uji Kelayakan | Awas, Kebiasaan Buruk Ini Berbahaya buat Otak | Penjelasan Majalah Tempo Soal Sampul Bergambar Jokowi | Kebakaran Gudang Alfamidi di Tangerang, Bangunan Runtuh | Ini Daftar Juara Piala Dunia Basket FIBA dari Tahun ke Tahun | Gubernur Jenderal Australia Berpidato dalam Bahasa Indonesia | Bahaya 3 Pasal Revisi UU KPK yang Disepakati DPR - Pemerintah | DKI Jawab Ombudsman, Bina Marga: Potong Kabel Trotoar Jalan Terus | Jokowi Minta Perangkat Negara Solid Tangani Karhutla | Alasan Bogor Tak Bisa Aktif Mendata Bangunan Liar Kawasan Puncak | DPR dan Pemerintah Bakal Bawa Revisi UU KPK ke Paripurna | Indonesia Berpeluang Raih Medali di Kejuaraan Dunia Wushu | Laga Perdana Kualifikasi Piala AFC U-16, Pemain Timnas U-16 Gugup | Polisi Sebut Flyover Manggarai Favorit Transaksi Narkoba | Revisi UU KPK: DPR Sepakat Dewan Pengawas Diangkat Presiden | Menteri Rini Soemarno Rombak Direksi Bio Farma | DPR Setuju Usia Perkawinan 19 Tahun, BKKBN: Yang Ideal 21 Tahun |
Home jadwal bola Skor bola Zodiakmu Hari Ini dairi  

Kualifikasi Piala Dunia, Mediokeritas PSSI, dan Aliandoe 1986 | Berita Tempo Hari Ini

Oleh : Admin | on Rabu, 11 September 2019 11:10 WIB

Kualifikasi Piala Dunia, Mediokeritas PSSI, dan Aliandoe 1986 | Berita Tempo Hari Ini

Pemain timnas Indonesia Saddil Ramdani mencoba melewati pemain Thailand Narubadin Weerawatnodom dalam laga grup G Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa, 10 September 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

SUMUTkota.com, Jakarta - Sejak Piala Federasi Sepak Bola Asia Tenggara (Piala AFF) yang terakhir, memang begitulah kualitas tim nasional sepak bola senior Indonesia. Kekalahan beruntun 2-3 dari Malaysia dan 0-3 dari Thailand pada kualifikasi Piala Dunia 2022 bukan sesuatu yang mengherankan.

Dalam iklim sepak bola yang medioker, butuh sebuah terapi kejutan yang luar biasa untuk mengubah yang medioker itu menjadi sesuatu yang punya daya sengat kuat.

Beto Goncalves, Stefano Lilipaly, Andritany Ardhiyasa dan kawan-kawan sudah tampak berjuang sekuat tenaga. Mereka tentu tak ingin kalah secara menyakitkan seperti itu.

Tapi, sepak bola Indonesia memang mengalami kemampatan yang lama. Beto yang sudah berusaha menjadi warga negara Indonesia yang baik setelah proses naturalisasi adalah seperti Cristian Gonzales yang membela tim Garuda sampai final Piala AFF 2010.

Bayangkan jika ditarik lebih jauh dari soal menang-kalah, bahwa setelah sekian setahun regenerasi pemain, terutama untuk pemain lokal, bisa mengalami kemampatan seperti itu. Tak hanya di lini depan, tapi juga di lini lainnya.

Terakhir, mungkin, pada era Kurniawan Dwi Yulianto ketika masih bermain , kita masih bisa melihat banyak sumber daya penyerang lokal untuk  tim nasional. Sekarang, tak ada lagi yang dilirik selain Irfan Bachdim dan segelintir penyerang lain.

Tak ada yang salah dengan kebijakan untuk memanfaatkan para pemain naturalisasi. Tapi, jika hal itu dipertahankan sampai sekarang, artinya pola pembinaan tim sepak bola nasional masih mengandalkan proses kaderisasi pemain secara instan.

Gareth Southgate diberi kesempatan dan membutuhkan waktu cukup untuk menyiapkan skuad para pemain mudanya agar bisa sampai menembus semifinal Piala Dunia 2018.

Di sini, setelah Luis Milla membawa tim Garuda tampil lumayan di Asian Games 2018, karena berbagai alasan, kontinuitas pembinaan tim nasioal senior terputus-putus lagi. Mereka seperti kembali dari awal dengan beban ada di Bima Sakti dan kini Simon McMenemy.

Jika ada yang sinis dan skeptis setelah melihat Indonesia dikalahkan Thailand secara telak di Stadion GBK, Selasa 10 September 2019, lantas mengatakan bahwa sepak bola memang bukan bidang kita, hal itu bisa dipahami.

Sekadar mengingatkan, bahwa prestasi terbaik tim Indonesia sepanjang mengikuti babak kualifikasi Piala Dunia itu terjadi pada 1986 atau 33 tahun lalu.

Indonesia yang saat itu ditangani pelatih lokal, almarhum Sinyo Aliandoe, sudah berhasil melaju ke Babak Kedua Zona B AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia) Piala Dunia 1986.

Pada  Babak Pertama Zona B AFC, Indonesia berhasil menjadi juara grup dalam pertandingan kandang-tandang melawan Thailand, India, dan Bangladesh.

Jika berhasil mengalahkan Korea Selatan, Bambang Nurdiansyah dan kawan-kawan bakal  semain dekat lolos ke Meksiko. Tapi, Banur cs akhirnya harus kalah secara terhormat 0-2 di Seoul dan 1-4 di GBK.

Simon McMenemy berhak dan pantas menegaskan ia masih layak menangani tim nasional Indonesia senior di kualifikasi Piala Dunia 2022.

Tapi, jika kelak jejak yang ditinggalkan Luis Milla, Simon McMenemy, dan mengandalkan proses naturalisasi pemain seperti Cristian Gonzales, Beto, dan kawan-kawan tidak kunjung lebih baik dari torehan Sinyo Aliandoe dan pemain lokal seperti Bambang Nurdiansyah cs di kualifikasi Piala Dunia, ada baiknya terapi kejutan diberlakukan untuk menepis pandangan skeptis soal sepak bola Indonesia yang medioker ini.

Pengurus PSSI yang baru perlu merombak pola pembinaan sepak bola Indonesia secara menyeluruh. Atau, merera tidak tanggung-tanggung dalam mendatangkan pelatih mancanegara yang sangat berkaliber.

Filipina mencapai semifinal Piala AFF 2018 dengan mendatangkan Sven-Goran Eriksson sebagai konsultan. Korea Selatan mendatangkan Guus Hiddink yang membawa mereka mencapai semifinal 2002. Tim nasional PSSI dulu nyaris lolos ke Olimpiade 1976 di bawah asuhan Wiel Coerver.

      



Kualifikasi Piala Dunia, Mediokeritas PSSI, dan Aliandoe 1986 | Bang Naga | on Rabu, 11 September 2019 11:10 WIB | Rating 4.5
Cuplikan :Judul: Kualifikasi Piala Dunia, Mediokeritas PSSI, dan Aliandoe 1986
Description: Tak ada lonjakan berarti sejak Sinyo Aliandoe nyaris meloloskan Indonesia ke Piala Dunia 1986. Hasil di Kualifikasi Piala Dunia 2022 memprihatinkan.
Alamat: https://sumutkota.com/tempo/read/1246409/kualifikasi-piala-dunia-mediokeritas-pssi-dan-aliandoe-1986.html
Artikel Terkait

Bagikan Ke : Facebook Twitter Google+

CONTENT

» KLHK Identifikasi Risiko Lingkungan Ibu Kota Baru
» Ronaldo Akan Nikahi Georgina
» Kreator 'Friends' Tegaskan Tak Ada Reuni dan Produksi Ulang
» Polisikan Bos Kaskus, Pelapor Akui Transaksi Lewat Perantara
» Jokowi Sebut Pemerintah Perlu Turun Tangan Cetak Konglomerat
» Pemerintah Diminta Jangan 'Plinplan' Soal LCGC Jilid 2
» Timnas Indonesia U-16 Grogi Ditonton Banyak Orang

Karir


Lirik

  • AYDI – Kita Indonesia
  • The Virgin – Diakah Jodohku
  • Abiel Jatnika – Kapalang Nyaah
  • Michiel Eduard – Kau Telah Pergi (OST ROMPIS 2018)
  • Hary – Biarkan Ku Pergi
  • Anggun – Siapa Bilang Gak Bisa
  • Smash – Fenomena
  • Adipati – Lempar Batu Sembunyi Tangan
  • LaoNeis Band – Insya Allah
  • Michael Mario – Jangan Menolak

  • Nasional

    » Gempa Bumi Hari Ini

    menu


    Tempo LIPUTAN DAIRI QUICK COUNT PILPRES Zodiak
    © 2017 - 2019 sumutkota.com | Pers | V.DB: 3.50 | All Right Reserved

    DMCA.com Protection Status


    Page loads : seconds