Berita Terkini Nasional Dan Internasional 2019
Skizofrenia Bisa Disembuhkan, Harus Minum Obat Berapa Lama? | Xiaomi Perkenalkan Sepeda Listrik, Bisa Tempuh 120 Km | Laporan Keuangan Garuda Indonesia Disebut Tidak Sesuai Standar | Mantan Top Skor Liga 1 Diragukan, Ini Pembelaan Pelatih Arema FC | KPU Targetkan Santuni Petugas KPPS Meninggal Dalam 10 Hari | Kaesang Sebut Thor Jadi Pegawai PLN, Kode Pengganti Sofyan Basir? | Bawaslu Jaktim Keluarkan Rekomendasi Coblos Ulang di 8 TPS | Liga 1 Diundur, Arema FC akan Gelar Uji Coba 2 Kali Lawan PSIS | Keuntungan Menggunakan Nama Domain .id | Kisah Pilu Bayi dalam Kantong Plastik Penuh Belatung di Vietnam | Cerita Caca Tengker Hadapi Masalah di Awal Menjadi Ibu | Dilema Surat Utang Jangka Menengah | Propaganda Kecurangan Pemilu | Suzuki Carry World Premiere di IIMS 2019? | Aroma Korupsi di Kabinet Jokowi | Ciri Terkena Diabetes Adalah dengan 3P, Apa Itu? | Liga 1: Pemain Persebaya Bergaya di Panggung Fesyen | Tiket Pesawat Mahal, Bisnis Hotel dan Agen Perjalanan Merosot | Ini yang Istimewa dari OPPO F11 Pro Avengers: Endgame | Selain Sofyan Basir, Ini Dirut PLN Lainnya yang Terjerat Korupsi | KPK Sita Dokumen Anggaran dari Kantor Wali Kota Tasikmalaya | Sidang Ratna Sarumpaet Hari Ini, Empat Saksi Ahli akan Dihadirkan | IIMS 2019: BMW Tawarkan Garansi Tanpa Batas Kilometer | Jessica Iskandar Beri Hadiah Umrah untuk Asistennya | Daftar Domain .id Dua Karakter, Harganya Rp 500 Juta | BMKG: Jakarta Timur dan Selatan Berpotensi Hujan | Piala Indonesia: Ricky Tunda Bulan Madu demi Bela Bali United | Piala Indonesia: Jelang Lawan Pesija, Bali United Lepas Bate | Fosil T-Rex Dilelang di eBay Rp 41,5 Miliar | Tim Gabungan Novel Baswedan: Mau Jenderal atau Kopral Itu Materi | Man United Vs Man City 0-2: Rekor buat Citizens, Rapor Buruk MU | Presiden Joko Widodo Dijadwalkan Buka IIMS 2019 | Piala Indonesia, Supardi: Persib Masih Punya Peluang di Leg 2 | 3 Saran Ahli Dalam Mengurangi Risiko Diabetes, Hindari Soda | Kejuaraan Bulu Tangkis Asia: Tak Sehat, Hendra / Ahsan Mundur | Piala Indonesia: Debut Manis Roberto Carlos Mario Gomez | KPK Dalami Aliran Dana PLTU saat Periksa Saksi untuk Sofyan Basir | OPPO F11 Pro Edisi Avengers: Endgame Dirilis, Harga Rp 5,299 Juta | Hasil Coppa Italia: Kalahkan AC Milan 0-1, Lazio Lolos ke Final | Terkait Pencucian Uang, Polisi Belgia Geledah Kantor Anderlecht | Ucapan Selamat Datang Rizieq Shihab, PA 212: Sah-sah Saja | Hollywood Merayakan Akhir dari Film Avengers | Klasemen Liga Spanyol: Menang, Atletico Tunda Pesta Barcelona | Mobil Esemka Tes Pasar, Pemdes Demangan Akan Undang PT SMK | Klasemen Liga Inggris: Man United Vs Man City 0-2, Arsenal Keok | Empat Pembunuh Anggota FBR Ditangkap, Satu Ditembak | Rafael Nadal ke Babak 16 Besar Barcelona Open | KPK Telah Tetapkan Wali Kota Tasikmalaya Tersangka | Ernest Prakasa Galang Crowdfunding Beli Cermin buat Hanum Rais | Begini Peserta Syukuran di TMII Meyakini Kemenangan Prabowo | Syukuran Prabowo Menang, Amien Rais Sindir Presiden Bebek Lumpuh | Massa Pro-Prabowo Demo di Bawaslu, Desak Komisioner KPU Dipecat | Syukuran Prabowo-Sandi di TMII Dilarang Direkam, Wartawan Kecewa | DJ Butterfly Melahirkan Bayi Perempuan, Netizen: Halo Mbah Mijan | Real Count Sementara KPU Rabu Pagi: Suara Jokowi 55,39 Persen | Lima Jurus Kubu Jokowi dalam Menunggu Hasil Resmi KPU | Bachtiar Nasir Klaim de Facto Prabowo Resmi Jadi Presiden | Tinju Dunia: Kemenangan KO Terdahsyat Bulan Ini, Simak Videonya | Skizofrenia Bisa Disembuhkan, Harus Minum Obat Berapa Lama? | Rutin Periksa Tekanan Darah Anak Cegah Risiko Penyakit Jantung | Xiaomi Perkenalkan Sepeda Listrik, Bisa Tempuh 120 Km | Laporan Keuangan Garuda Indonesia Disebut Tidak Sesuai Standar | Mantan Top Skor Liga 1 Diragukan, Ini Pembelaan Pelatih Arema FC | KPU Targetkan Santuni Petugas KPPS Meninggal Dalam 10 Hari | Kaesang Sebut Thor Jadi Pegawai PLN, Kode Pengganti Sofyan Basir? | Bawaslu Jaktim Keluarkan Rekomendasi Coblos Ulang di 8 TPS | Liga 1 Diundur, Arema FC akan Gelar Uji Coba 2 Kali Lawan PSIS | Keuntungan Menggunakan Nama Domain .id |
Home jadwal bola Skor bola Zodiakmu Hari Ini dairi  

Menafsir Ulang Pasal Penodaan Agama | Berita Tempo Hari Ini

Oleh : Admin | on Senin, 15 April 2019 07:00 WIB

Menafsir Ulang Pasal Penodaan Agama | Berita Tempo Hari Ini

Menafsir Ulang Pasal Penodaan Agama

Miko Ginting
Pengajar Hukum Pidana di STH Indonesia Jentera

Mahkamah Agung telah menjatuhkan vonis kepada Meiliana, ibu yang didakwa dengan delik penodaan agama, dengan 18 bulan pidana penjara. Sejak awal kasus ini mendapat sorotan publik karena dekat sekali dengan perasaan keadilan masyarakat, berputar dalam relasi mayoritas-minoritas kehidupan sosial beragama, pembuktian yang dianggap lemah, hingga perdebatan soal apakah ada keperluan untuk mempertahankan delik ini sebagai norma hukum.

Penafsiran hakim pada tingkat kasasi akan sangat menarik untuk dibahas. Namun, hingga hari ini, putusan tersebut belum dipublikasikan oleh Mahkamah Agung. Dengan demikian, belum dapat dilakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan tersebut. Terlepas dari hal itu, persoalan norma dalam Pasal 156 huruf a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana juga tidak kalah menariknya untuk dibahas dengan satu pertanyaan penting: jika delik itu masih eksis dalam hukum positif Indonesia, apa yang harus dilakukan agar penerapannya berjalan dalam koridor yang tepat?

Suatu norma hukum, terutama apabila membatasi perilaku dengan mencantumkan sanksi pidana sebagai sebuah konsekuensi, seharusnya dirumuskan secara tertulis (lex scripta), secara pasti/jelas (lex certa), dan secara ketat (lex stricta). Ketiga prinsip ini adalah prinsip yang fundamental dalam negara hukum. Meski demikian, tidak dapat dimungkiri bahwa ada, bahkan banyak, norma hukum yang dirumuskan secara longgar dan memunculkan banyak penafsiran sehingga penerapannya berdampak secara negatif pada perlindungan hak individu.

Salah satunya adalah delik penodaan agama yang sampai saat ini masih berlaku melalui KUHP. Begitu juga dengan dua putusan Mahkamah Konstitusi, yaitu Putusan Nomor 140/PUU-VII/2009 dan Putusan Nomor 84/PUU-X/2012, yang menyatakan delik tersebut konstitusional atau tidak bertentangan dengan norma konstitusi. Ke depan, tampaknya perumus rancangan KUHP akan tetap mempertahankan delik ini. Dalam situasi dilematis ini, gerbang terakhir untuk memastikan penerapannya berjalan secara tepat adalah pada pertimbangan hakim yang mengadili kasus-kasus yang terkait "penodaan agama" ini.

Salah satu kajian penting dan lengkap serta dapat dijadikan acuan bagi hakim adalah Penafsiran terhadap Pasal 156 huruf a KUHP tentang Penodaan Agama (Analisis Hukum dan Hak Asasi Manusia). Kajian yang disusun oleh Lembaga Kajian dan Advokasi Peradilan (LeIP) itu tidak hanya secara lengkap merumuskan berbagai perangkat analisis tapi juga secara mendalam menyediakan acuan bagi hakim untuk mendudukkan kembali penafsiran (reinterpretasi) yang tepat perihal delik penodaan agama.

Ada beberapa unsur yang perlu menjadi acuan hakim. Pertama, adanya unsur kesengajaan. Unsur ini harus diartikan kesengajaan dengan maksud (opzet als oogmerk) yang dalam delik ini harus diartikan bahwa perbuatan itu harus semata-mata diniatkan atau dimaksudkan untuk menghina atau menodai suatu agama. Kedua, unsur di muka umum. Unsur tersebut harus diartikan bahwa perbuatan itu dilakukan secara lisan atau secara fisik.

Ketiga, unsur permusuhan. Unsur ini harus mengandung kebencian yang mendalam terhadap suatu agama, bukan sekadar keyakinan atau pandangan yang berbeda. Keempat, unsur penodaan agama dan penyalahgunaan agama. Sejalan dengan unsur sebelumnya, unsur ini seharusnya diartikan bukan sekadar pandangan atau keyakinan yang berbeda, tapi juga harus mengandung unsur permusuhan dan menghina secara obyektif.

Dalam kerangka ini, salah satu parameter penting adalah siapa yang akan menentukan suatu tindakan atau ucapan lisan memenuhi unsur permusuhan sebagai dasar penodaan agama? Jika mendasarkan pada keterangan ahli, tentu sama sekali tidak tepat. Jika mendasarkan pada ketersinggungan masyarakat, maka bias dan persepsi mayoritas-minoritas kemungkinan besar akan berperan besar. Di titik ini, kembali peran hakim menjadi penting untuk memeriksa apakah benar suatu perbuatan maupun ucapan lisan mengandung unsur permusuhan untuk menodai agama secara obyektif.

Persoalannya, hal ini hanya dapat dipenuhi jika hakim dapat mengesampingkan bias dan posisi pribadinya. Sebaliknya, hakim harus dapat menempatkan dirinya pada posisi yang independen dan imparsial secara obyektif. Hal ini lebih sulit karena berada di tengah dorongan pandangan pribadi dan tekanan massa yang sering kali ditemui dalam kasus-kasus seperti penodaan agama. Solusi ini tentu tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan, tapi mungkin inilah hal yang bisa dilakukan saat ini, terutama di tengah upaya untuk tidak mempertahankan delik penodaan agama ini dalam negara yang demokratis.



Menafsir Ulang Pasal Penodaan Agama | Bang Naga | on Senin, 15 April 2019 07:00 WIB | Rating 4.5
Cuplikan :Judul: Menafsir Ulang Pasal Penodaan Agama
Description: Mahkamah Agung telah menjatuhkan vonis kepada Meiliana, ibu yang didakwa dengan delik penodaan agama, dengan 18 bulan pidana penjara.
Alamat: https://sumutkota.com/tempo/read/1195746/menafsir-ulang-pasal-penodaan-agama.html
Artikel Terkait

Bagikan Ke : Facebook Twitter Google+

CONTENT

Karir


Lirik

  • AYDI – Kita Indonesia
  • The Virgin – Diakah Jodohku
  • Abiel Jatnika – Kapalang Nyaah
  • Michiel Eduard – Kau Telah Pergi (OST ROMPIS 2018)
  • Hary – Biarkan Ku Pergi
  • Anggun – Siapa Bilang Gak Bisa
  • Smash – Fenomena
  • Adipati – Lempar Batu Sembunyi Tangan
  • LaoNeis Band – Insya Allah
  • Michael Mario – Jangan Menolak

  • Nasional

    » Gempa Bumi Hari Ini

    menu


    Tempo LIPUTAN DAIRI QUICK COUNT PILPRES Zodiak
    © 2017 - 2019 sumutkota.com | Pers | V.DB: 3.50 | All Right Reserved

    DMCA.com Protection Status

    Page loads : seconds