Berita Terkini Nasional Dan Internasional 2018
Info di Internet Picu Bunuh Diri? Ini Catatan untuk Orang Tua | Konvoi Persija Juara, Ini Rekayasa Lalu Lintas Hari Ini | F1: Ferrari Akan Luncurkan Mobil Balap Baru pada 15 Februari 2019 | Dubes Amerika di Venezuela Sebut Jet Tempur Rusia Barang Museum | Kecam Dewan Kota, Pria AS Bangun Monumen Raksasa Fuck the System | Jadwal Liga Spanyol Malam Ini, Ada Real Madrid Vs Vallecano | Tinju Dunia: Tantang Fielding, Alvarez Ingin Bikin Sejarah Baru | Jadwal Proliga 2019 Seri Dua Sabtu Ini: Ada Tiga Partai Menarik | Madura United Kontrak Dane Milovanovic untuk Liga 1 2019 | Hari Ini Persija Lakukan Konvoi Juara, Ini Harapan Gede Widiade | Bentuk Alis, Faktor Apa yang Menentukan? Tilik Jawaban Ahlinya | Jadwal Liga Inggris Malam Ini, Manchester City Kembali ke Puncak? | Hasil Bulu Tangkis BWF Finals: Seluruh Wakil Indonesia Tersingkir | Proliga 2018: Dramatis, Bank SumselBabel Kalahkan Aneka Gas | Cina Jadi Negara Pembangun Gedung Pencakar Langit Terbanyak | Danny Masrin Wakil Tuan Rumah Tersisa di Golf Indonesian Masters | Psikolog Seksologi: Petisi Iklan Shopee BlackPink Aksi Berlebihan | Kereta Anjlok di Jatinegara, Penumpang Sempat Menumpuk di Gambir | Pembangunan Mako TNI Angkatan Udara III di Biak Rampung pada 2019 | Mendagri Keluarkan Instruksi Soal Jilbab hingga Jenggot untuk ASN | Pelaku Pengeroyokan Anggota TNI di Ciracas Menjabat Taruna Parkir | Bus Berpenumpang 30 Orang Terseret Longsor Sitinjau Lauik, Padang | Bupati Cianjur Kena OTT KPK, Ribuan Warga Gelar Selamatan | Perusakan Polsek Ciracas, Polisi Militer TNI Ikut Menyelidiki | Mendagri Cabut Instruksi Soal Seragam ASN Kemendagri | Adik Prabowo Masuk Daftar Orang Terkaya RI versi Forbes | Pelarian Tersangka Pengeroyokan TNI Berakhir di Resto Cepat Saji | Mendagri Cabut Instruksi soal Jilbab dan Jenggot, Ini Alasannya | Darwis Triadi Memotret Jokowi: Dia Serahkan Total kepada Saya | Info di Internet Picu Bunuh Diri? Ini Catatan untuk Orang Tua | Konvoi Persija Juara, Ini Rekayasa Lalu Lintas Hari Ini | F1: Ferrari Akan Luncurkan Mobil Balap Baru pada 15 Februari 2019 | Dubes Amerika di Venezuela Sebut Jet Tempur Rusia Barang Museum | Kecam Dewan Kota, Pria AS Bangun Monumen Raksasa Fuck the System | Jadwal Liga Spanyol Malam Ini, Ada Real Madrid Vs Vallecano | Tinju Dunia: Tantang Fielding, Alvarez Ingin Bikin Sejarah Baru | Jadwal Proliga 2019 Seri Dua Sabtu Ini: Ada Tiga Partai Menarik | Madura United Kontrak Dane Milovanovic untuk Liga 1 2019 | Hari Ini Persija Lakukan Konvoi Juara, Ini Harapan Gede Widiade |
Home jadwal bola Skor bola Zodiakmu Hari Ini dairi  

Komentar Trump Soal Sanksi Korut Picu Kontroversi di Korsel | Berita Tempo Hari Ini

Oleh : Admin | on Kamis, 11 Oktober 2018 19:30 WIB

Komentar Trump Soal Sanksi Korut Picu Kontroversi di Korsel | Berita Tempo Hari Ini

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berkampanye di Billings, Montana, pada Kamis, 6 September 2018, mendesak pendukungnya untuk mencoblos pada pemilu tengah pada November 2018 agar dia tidak terkena pemakzulan. AP via Chicago Tribune

SUMUTkota.com, Jakarta - Komentar Donald Trump atas pernyataan pencabutan sanksi Korea Utara oleh Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Kang Kyung-wha, menimbulkan kontroversi di Korea Selatan.

Pernyataan Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Kang Kyung-wha, pada Rabu 10 Oktober tentang penghapusan sanksi Korea Utara atas insiden penembakan kapal perang Korsel, ditarik kembali setelah kritik dari anggota parlemen Korea Selatan, dan membuat Presiden AS Donald Trump untuk mengatakan Korea Selatan akan membutuhkan persetujuan AS untuk meringankan sanksi.

Baca: Trump Mengaku Jatuh Cinta kepada Kim Jong Un

"Mereka tidak akan melakukannya tanpa persetujuan kami. Mereka tidak melakukan apa-apa tanpa persetujuan kami," kata Trump ketika ditanya soal pertimbangan pencabutan sanksi Korea Utara, seperti dilansir dari Reuters, 11 Oktober 2018.

Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Kang Kyung-Wha saat hadir dalam World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, 25 Januari 2018. REUTERS

Trump mengatakan sanksi akan tetap berlaku sampai Korea Utara melakukan denuklirisasi.

Kang mengulang pernyataannya setelah dikritik beberapa anggota parlemen konservatif bahwa sanksi tidak dapat dihapus kecuali Korea Utara pertama meminta maaf atas serangan itu.

Sanksi terhadap Korut, yang dikenal sebagai Sanksi 24 Mei, melarang semua kapal Korea Utara memasuki pelabuhan Korea Selatan dan memotong sebagian besar sektor perdagangan antar-Korea, termasuk pariwisata, perdagangan dan bantuan.

Sanksi 24 Mei, diberlakukan setelah serangan torpedo mematikan Korea Utara terhadap kapal perang Korea Selatan, Cheonan, pada tahun 2010, yang menewaskan 46 pelaut Korea Selatan, seperti dilansir dari Yonhap.

Komentar Donald Trump terkait penghapusan sanksi memicu perdebatan panas di Korea Selatan, dengan beberapa anggota parlemen konservatif menyebutnya sebagai penghinaan.

Baca: Korea Selatan Sebut Korea Utara Masih Miliki 60 Senjata Nuklir

"Kata "Persetujuan" adalah kata yang kuat dan menghina yang dimaksudkan untuk mengatakan bahwa kita maju terlalu cepat dengan Korea Utara tanpa mencari konsensus dengan Amerika Serikat," kata Kim Jae-kyung dari partai oposisi konservatif.

Polemik pencabutan sanksi yang diupayakan Korea Utara muncul ketika Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, berusaha mencairkan hubungan Korea Selatan dengan Korea Utara, dengan tiga pertemuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tahun ini.

Meskipun ada hubungan lintas batas dua negara tahun ini, unsur-unsur utama sanksi, seperti larangan perdagangan dan investasi, tetap berlaku, tumpang tindih dengan sanksi kepada Korea Utara atas program nuklir dan rudal balistiknya.

Sebuah bagian dari kapal angkatan laut Korea Selatan yang sudah tenggelam, Cheonan, diangkat oleh derek dari pulau Baengnyeongdo, dekat perbatasan maritim dengan Korea Utara, barat laut Seoul, 24 April 2010. [REUTERS / Choi Jae-Gu / Yonhap]

Awalnya Kang mengindikasikan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan penghapusan Sanksi 24 Mei sebagian besar sebagai langkah simbolis dimaksudkan untuk membantu meningkatkan hubungan Seoul-Pyongyang.

"Ini adalah perintah eksekutif yang penting. (Kami) telah terus-menerus meninjaunya," kata Kang, dikutip dari Yonhap.

Baca: Korea Selatan - Korea Utara Mulai Bersihkan Ranjau di Perbatasan

"Karena ada banyak sanksi (bilateral) yang tumpang tindih dengan yang ada di AS, itu tidak berarti pengangkatan substantif (sanksi terhadap Korea Utara)," tambah Kang.

Sementara Menteri Unifikasi Korea, Cho Myoung-gyon menolak untuk mengomentari pernyataan Donald Trump terkait Sanksi 24 Mei, tetapi mengatakan AS tidak menentang dialog dan pertukaran antara Korea Selatan-Korea Utara, dan sekutu melalui konsultasi erat.



Komentar Trump Soal Sanksi Korut Picu Kontroversi di Korsel | Bang Naga | on Kamis, 11 Oktober 2018 19:30 WIB | Rating 4.5
Cuplikan :Judul: Komentar Trump Soal Sanksi Korut Picu Kontroversi di Korsel
Description: Komentar Donald Trump atas pernyataan pencabutan sanksi Korea Utara oleh Menteri Luar Negeri Korea Selatan, menimbulkan kontroversi di Korea Selatan.
Alamat: https://sumutkota.com/tempo/read/1135340/komentar-trump-soal-sanksi-korut-picu-kontroversi-di-korsel.html
Artikel Terkait

Bagikan Ke : Facebook Twitter Google+

CONTENT

Latest News

» Cerita Nostalgia Gratis di Malam Pertama HUT 17 Transmedia
» Lawan Man United, Klopp Tak Anggap Liverpool Krisis Bek
» PAN Diminta Tak Bersilat Lidah Kader di Kalsel Dukung Jokowi
» Erajaya Bakal Garap Kota Tier 2 dan 3 di 2019
» JK Klaim Pelaksanaan Asian Games Dapat Nilai A Plus
» Malaysia Tarik Kapal, Singapura Adukan Sengketa Wilayah
» Gempa 5,2 SR Guncang Gorontalo

Karir

Android APK


Nasional

» Gempa Bumi Hari Ini

menu


Tempo LIPUTAN DAIRI CNN Zodiak
© 2017 - 2018 sumutkota.com | Pers | V.DB: 3.50 | All Right Reserved

DMCA.com Protection Status

Page loads : seconds