Berita Terkini Nasional Dan Internasional 2018
Pembangunan Mako TNI Angkatan Udara III di Biak Rampung pada 2019 | Mendagri Keluarkan Instruksi Soal Jilbab hingga Jenggot untuk ASN | Pelaku Pengeroyokan Anggota TNI di Ciracas Menjabat Taruna Parkir | Bus Berpenumpang 30 Orang Terseret Longsor Sitinjau Lauik, Padang | Bupati Cianjur Kena OTT KPK, Ribuan Warga Gelar Selamatan | Perusakan Polsek Ciracas, Polisi Militer TNI Ikut Menyelidiki | Jaksa Sebut Sisca Dewi Memeras Hingga Rp 35 M, Ini Rinciannya | Mendagri Cabut Instruksi Soal Seragam ASN Kemendagri | Adik Prabowo Masuk Daftar Orang Terkaya RI versi Forbes | Pelarian Tersangka Pengeroyokan TNI Berakhir di Resto Cepat Saji | Darwis Triadi Memotret Jokowi: Dia Serahkan Total kepada Saya | Pembangunan Mako TNI Angkatan Udara III di Biak Rampung pada 2019 | Hafiz - Gloria Kalah, Indonesia Rontok di Bulu Tangkis BWF Finals | Jokowi: Dulu Banyak yang Sangsi Tol dari Bakauheni ke Aceh | Hendra - Ahsan Kalah Lagi, Tersisih dari Bulu Tangkis BWF Finals | 11 Ribu Petani Dapat Pinjaman Berkat Teknologi Blockchain | KPK Perpanjang Masa Penahanan Hakim PN Jakarta Selatan | Dinas Dukcapil Sumenep Bakar 51 Ribu E-KTP Rusak | Polisi Beberkan Peran Para Tersangka Pengeroyokan Anggota TNI | Cerita Tasya Kamila Ngidam Random dan LDR saat Hamil | Dari Aceh, Jokowi Berkunjung ke Riau Malam Ini |
Home jadwal bola Skor bola Zodiakmu Hari Ini dairi  

Budi Waseso | Berita Tempo Hari Ini

Oleh : Admin | on Kamis, 20 September 2018 08:25 WIB

Budi Waseso | Berita Tempo Hari Ini

ilustrasi beras

SUMUTkota.com, Jakarta - Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance atau Indef, Rusli Abdulah, memaparkan data beras nasional dalam dua versi. Hal tersebut merespons perbedaan pendapat antara Kementerian Pertanian (Menteri Amran) dan Bulog (Budi Waseso) dengan Kementerian Perdagangan (Menteri Enggar).

Baca: Budi Waseso Persoalkan Impor Beras, Enggartiasto Tetap Santai

Rusli mengatakan, berdasarkan hitung-hitungan di atas kertas, Indonesia masih surplus beras 1,42 juta ton.

"Perhitungannya adalah sebagai berikut. Dengan asumsi jumlah penduduk 275 juta orang dan konsumsi beras per kapita sebesar 117 per kilogram, maka konsumsi beras pada 2017 sebesar 32,17 juta ton per tahun. Di sisi lain, produksi beras nasional Indonesia pada 2017 mencapai 33,6 juta ton," katanya saat dihubungi, Kamis, 20 September 2018.

Angka ini, kata Rusli, diperoleh dari luas sawah sekitar 8 juta ton dengan hasil beras per hektare 4,2 ton.

Baca: Indonesia Tak Perlu Impor Beras hingga Pilpres 2019

Lebih lanjut, Rusli menuturkan stok beras yang saat ini ada di gudang Bulog sebanyak 2,4 juta ton. Menurutnya, beras di gudang Bulog saat ini antara lain terdiri atas 1,3 juta ton beras impor.

"Katakanlah 600 ribu ton stoknya ada di pedagang, rumah tangga, maka kebutuhan satu bulan ke depan aman. Tapi bagaimana dengan kebutuhan Oktober sampai Februari yang merupakan masa non-panen raya?" ujarnya.

Menurut Rusli, hal inilah yang menjadi perdebatan apakah impor atau tidak untuk memenuhi kebutuhan Oktober hingga Februari tahun depan.

"Kembali lagi, data stok beras tidak akurat sehingga perencanaan pemenuhan beras dalam negeri terjadi tarik-menarik," ucapnya.

Pernyataan Rusli itu menanggapi silang pendapat yang dilontarkan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito dan Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso di media tentang impor beras. Dirut Bulog mengaku tak setuju dengan keputusan impor beras hingga 2 juta ton di antaranya karena kesulitan mencari tempat untuk menyimpan komoditas tersebut jika telah sampai di Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Enggar menegaskan bahwa impor adalah keputusan bersama yang diketok Menteri Koordinator Perekonomian. Soal penyimpanan beras di gudang, menurut dia, bukanlah urusannya. "Enggak tahu saya, bukan urusan kami. Itu kan sudah diputuskan di rapat koordinasi Menko, urusan Bulog," tuturnya.

Pernyataan Enggar itu kemudian ditanggapi Budi Waseso bahwa penyimpanan beras di gudang bukan hanya urusan Bulog, melainkan urusan bersama lembaga pemerintah. Karena itu, Budi berharap semua lembaga pemerintah bisa bersinergi. "Kita kan aparatur negara, jangan saling tuding-tudingan, jangan saling lempar-lemparan, itu pemikiran yang tidak bersinergi," katanya.

Menurut Budi Waseso, jika impor tetap dilakukan, Kementerian Perdagangan harus menyiapkan tempat untuk menyimpan stok beras itu. "Mendag udah komitmen, kan Mendag kantornya siap jadi gudang," ujarnya.

KARTIKA ANGGRAENI



Budi Waseso | Bang Naga | on Kamis, 20 September 2018 08:25 WIB | Rating 4.5
Cuplikan :Judul: Budi Waseso
Description: Peneliti Indef memaparkan data untuk menanggapi ribut soal impor beras antara Budi Waseso dan Enggartiasto Lukito.
Alamat: https://sumutkota.com/tempo/read/1128196/budi-waseso-enggar-ribut-soal-impor-beras-peneliti-paparkan-data.html
Artikel Terkait

Bagikan Ke : Facebook Twitter Google+

CONTENT

Latest News

» Foto 6,8 Juta Pengguna Facebook Bocor Terkena Bug
» Polda Sumut Kerahkan 15 Ribu Personel Pengamanan Natal
» Kapal Pesiar Kasus 1MDB Dijual Rp1,8 Triliun
» 2 Korban Longsor di Tobasa Masih Hilang
» VIDEO: Kata Apple Fanboy soal Harga iPhone Terbaru
» Kapten Timnas Indonesia U-19 Ikut Trial di Eropa
» Adik Emil Dardak yang Tewas di Bandung Caleg PAN Dapil Jatim

Karir

Android APK


Nasional

» Gempa Bumi Hari Ini

menu


Tempo LIPUTAN DAIRI CNN Zodiak
© 2017 - 2018 sumutkota.com | Pers | V.DB: 3.50 | All Right Reserved

DMCA.com Protection Status

Page loads : seconds