Berita Terkini Nasional Dan Internasional 2018
Larangan Hewan Kurban, Satpol PP Awasi Venue Asian Games | KPU: Seluruh Kandidat Lolos Tes Kesehatan Capres dan Cawapres | Wakapolri Syafruddin Benarkan Jadi Pengganti Asman Abnur | Pilot Asing Sebut Lalu Lintas Penerbangan Indonesia adalah Neraka | Pernah Cuit Rasis Soal Ahok, Ini Profil Jubir Jokowi - Ma'ruf | Ditanya Kekayaannya yang Susut 40 Persen, Sandiaga: Aduh Sedihnya | Jokowi Akan Copot Asman Abnur sebagai Menteri, Begini Reaksi PAN | Alasan KPK Tidak Bisa Usut Mahar Politik Jenderal Kardus Sandiaga | Kurs Dolar Menguat, Harta Sandiaga Uno Melonjak | Jadwal Timnas U-23 di Asian Games: Rabu, Laga Berat Vs Palestina | PAN Dukung Prabowo, Jokowi Akan Copot Asman Abnur sebagai Menteri | Lapor LHKPN, Kekayaan Sandiaga Uno Naik Signifikan | Fadli Zon Berharap Farhat Abbas Nyambung saat Berdebat | Larangan Hewan Kurban, Satpol PP Awasi Venue Asian Games | KPU: Seluruh Kandidat Lolos Tes Kesehatan Capres dan Cawapres | Wakapolri Syafruddin Benarkan Jadi Pengganti Asman Abnur | Polisi Batalkan Tutup Permanen Pintu Tol untuk Asian Games | Tak Ingin Jadi Beban Jokowi, Menpan RB Asman Abnur Mundur | LRT Jakarta Gagal Ikut Asian Games, JK: Ndak Apa - apalah | Anies Luncurkan 32 Stasiun Pengisian Daya Ponsel Tenaga Surya | Tiga Hal yang Tak Boleh Ketinggalan Saat Traveling | Sepak Bola Asian Games: Jepang Hanya Menang 1-0 dari Nepal | Situs Bukit Siguntang Rusak, Sejarawan: Hentikan Pembangunan |
Home cnn jadwal bola Skor bola Zodiakmu Hari Ini info gadget dairi  

Bendera Kita Pernah Sama | Berita Tempo Hari Ini

Oleh : Admin | on Jumat, 10 Agustus 2018 07:30 WIB | Alamat URL:

Bendera Kita Pernah Sama | Berita Tempo Hari Ini

Pesepak bola Indonesia U-16, Andre Oktaviansyah (kiri), berebut bola dengan pesepak bola Malaysia U-16, Mohammad Marwan Abdul Rahman (kanan), dalam laga semifinal Piala AFF U-16 di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis, 9 Agustus 2018. Amiruddin Bagus Kahfi menjadi penentu lolosnya Indonesia lewat tendangan dari titik penalti. ANTARA/M Risyal Hidayat

Ahmad Sahidah
Dosen Senior Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia

Kontroversi soal bendera berulang. Pemain bola tim Harimau Malaya di bawah 16 tahun, Amirul Ashrafiq Hanifah, menggunakan bendera Polandia, yang mirip dengan Indonesia, dalam kejuaraan ASEAN Football Federation (AFF) U-16 di Surabaya, Jawa Timur. Pemain Malaysia itu meminta maaf. Kejadian ini mengingatkan kita pada peristiwa sebelumnya ketika bendera Merah Putih ditampilkan secara terbalik dalam buku panduan panitia SEA Games 2017 di Kuala Lumpur.

Orang-orang dari segala penjuru dan lapisan meluapkan kejengkelannya. Malah, sebuah akun organisasi resmi menyatakan pelaku mesti ditembak mati sebagai pengkhianat. Beberapa akun media sosial mengunggah bendera Malaysia, Jalur Gemilang, secara terbalik sebagai balasan.

Sebelumnya, pada pertandingan final AFF U-19 di Sidoarjo, Jawa Timur, penonton melempari skuad negeri jiran dengan botol. Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Syed Saddiq, menuntut Indonesia meminta maaf. Koleganya, Imam Nahrawi, menerima kehadiran menteri termuda itu dan bahkan sempat mengajaknya bertemu dengan Jokowi. Saddiq berharap agar di Asian Games 2018, provokasi semacam ini tidak terulang.

Tanggapan politikus Budiman Sudjatmiko dalam kasus bendera Merah Putih terbalik pada buku panduan SEA Games 2017 layak ditimbang. Alih-alih menyeret kekhilafan tersebut pada banyak isu lain, Budiman menegaskan bahwa ia menerima permintaan maaf yang dilakukan secara resmi oleh pihak penyelenggara atas dasar etika. Hubungan kedua negara serumpun ini semestinya merujuk pada etika hubungan internasional, yakni saling menghormati dan menghargai. Lagi pula, banyak orang Malaysia sendiri menyadari kesalahan tersebut dan menyoal keteledoran panitia dalam menyusun buku panduan.

Apakah isu ini perlu berhenti di sini? Tidak. Semestinya warga kedua negara sadar bahwa bendera Merah Putih dulu pernah digunakan oleh warga Semenanjung Malaysia sebagai lambang untuk menggelorakan perjuangan melawan penjajahan Inggris. Partai Kebangsaan Melayu Malaya (PKMM) berjuang bersama kaum nasionalis Indonesia untuk mengusir penjajah dan berhasrat membentuk Indonesia Raya atau Melayu Raya seraya mengerek bendera Merah Putih.

PKMM kemudian berubah menjadi Kesatuan Melayu Muda, yang dimotori oleh Ibrahim Yaacob dan Ishak Haji Muhammad, dengan corak perlawanan yang jauh lebih progresif. Bedanya dengan Sukarno dan Yamin, perjuangan orang Melayu Semenanjung didasarkan pada kecemasan rasial, sedangkan dua pejuang kemerdekaan Tanah Air berdasarkan jejak kerajaan Majapahit dan bahasa Melayu. Andaikata deklarasi kemerdekaan di Pegangsaan, Jakarta, menyertakan Semenanjung, mungkin kisah kita akan berbeda.

Namun, sejarah bercerita lain. Kaum kiri yang menjadi motor perlawanan tumbang. Malaysia merdeka melalui meja perundingan tokoh-tokoh Melayu, India, dan Tionghoa dengan sejawatnya di London. Kemudian, melalui perlombaan desain bendera, Jalur Gemilang, yang dibuat oleh Mohammed Hamzah, tanpa meninggalkan warna merah sebagai lambang keberanian dan putih bermakna kesucian, dipilih seraya menyisihkan 372 calon lain. Namun, Hishamuddin Rais, pegiat sosialis, menolak corak tersebut dan memilih bendera putih dengan bintang berjumlah 12 sebagai sang saka, sebagaimana juga dapat dilihat pada motif dasar bendera Singapura, UMNO, dan Patani.

Apapun bendera resmi Malaysia dan Indonesia, keduanya hadir menjadi pengikat identitas rakyat sebagai warga negara yang setara. Tak pelak, ketika bendera negeri jiran tersebut dibakar di depan Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta, rakyat negara tetangga memprotes keras karena bendera itu lambang harkat dan martabat. Sekarang, hal serupa terjadi dalam konteks berbeda.

Lambang-lambang sensitif ini perlu diperlakukan secara hati-hati. Lebih jauh, makna sejati dari secarik kain bukan semata-mata ada pada selembar bendera, tapi ba-gaimana nilai-nilai yang dipancarkan dari warna terlaksana dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran sejarah perlu hadir untuk mengurai kekusutan yang acap membelit dua negara serumpun ini.



Bendera Kita Pernah Sama | Bang Naga | on Jumat, 10 Agustus 2018 07:30 WIB | Rating 4.5
Cuplikan :Judul: Bendera Kita Pernah Sama
Description: Kontroversi soal bendera berulang. Pemain bola tim Harimau Malaya di bawah 16 tahun, Amirul Ashrafiq Hanifah, menggunakan bendera Polandia, yang mirip dengan Indonesia, dalam kejuaraan ASEAN Football Federation (AFF) U-16 di Surabaya, Jawa Timur.
Alamat: https://sumutkota.com/tempo/read/1115632/bendera-kita-pernah-sama.html
Artikel Terkait

Bagikan Ke : Facebook Twitter Google+

CONTENT

Latest News

» Usai Lapor LHKPN, Sandi Bantah Dugaan Mahar Rp500 Miliar
» Nama Aher Disebut Menguat Gantikan Sandi sebagai Wagub DKI
» Vaksin Belum 'Halal', Imunisasi MR Sudah 23 Persen
» Gerindra Sebut Rehuffle Harusnya Pertimbangkan Kinerja
» Jokowi Ingin Pramuka Paham soal Kecerdasan Buatan
» Polri Tuntaskan Kurikulum Sekolah Mengemudi Tahun Ini
» Klaim Bersih Mahar, JK Akui Parpol Nego Biaya Kampanye

Karir

Android APK

Kursus Menjahit Murah DI Medan
Kursus Menjahit Murah DI Medan
Kursus Menjahit Murah DI Medan

Teka Teki Silang (Game TTS) APK
Teka Teki Silang (Game TTS) APK
Teka Teki Silang (Game TTS) APK

TV Online Indonesia Android .apk
TV Online Indonesia Android .apk
9 Juni 2018
TV Online Indonesia Android .apk

Radio Batak android.apk
Radio Batak android.apk
9 Juni 2018
Radio Batak android.apk

Radio Dangdut android.apk
Radio Dangdut android.apk
9 Juni 2018
Radio Dangdut android.apk


KESEHATAN

Selengkapnya >>

Nasional

» Gempa Bumi Hari Ini

menu


olah raga bisnis otomotif gaya hidup kuliner properti tekno hotel travel medan karir TV Video Entertainment Kurs BITCOIN Pasang Iklan
© 2017 - 2018 sumutkota.com | Pers | V.DB: | All Right Reserved



Page loads : seconds