Berita Terkini Nasional Dan Internasional 2019
Jadwal Timnas-23: Hari Ini Vs Thailand di Kualifikasi AFC U-23 | PSM Makassar Targetkan Juara Kompetisi Liga 1 2019 | Prabowo - Sandiaga Terima Dukungan Aliansi Pengusaha Nasional | Akibat Banjir Terjang Cianjur Selatan, Jalan Penghubung Utama | Ussy Sulistiawaty Tes Uji Nyali dengan Pamer Bulu Ketek | Sebelum Lion Air JT 610 Jatuh, Co-Pilot Teriak Allahu Akbar | Jaksa Beberkan Daftar Penerima Suap KONI, Ada Nama Menpora | Lucinta Luna: Pernikahanku Menegangkan Tapi Alhamdulillah Sah | Misteri Pilot Ketiga yang Kemudikan Lion Air Sehari Sebelum Jatuh | Kisah Minimarket Milik Juara Dunia 100 M Lalu Muhammad Zohri | Menakar Kekuatan Prabowo: Lemah di Timur, Kuat di Barat | Bos Sahid Group Motori Deklarasi Dukungan Pengusaha Pro Jokowi | Ditanya Buku Nikah, Lucinta Luna: Lagi Bahagia Sama Suami | Pindad Luncurkan Mini Ekskavator, Harga Rp 600 Juta | Jadwal Timnas-23: Hari Ini Vs Thailand di Kualifikasi AFC U-23 | PSM Makassar Targetkan Juara Kompetisi Liga 1 2019 | Prabowo - Sandiaga Terima Dukungan Aliansi Pengusaha Nasional | Akibat Banjir Terjang Cianjur Selatan, Jalan Penghubung Utama | Respons Polri Soal Wacana Wiranto Perangi Hoax Pakai UU Terorisme | Pangandaran Gempa M=4,7, Potensi Tsunami Nihil | Digitalisiasi Bisnis, Bank Sumut Tidak Kurangi Karyawan | KPU Bahas Keberatan BPN Prabowo soal Metro TV Penyelenggara Debat | Setujui Tarif MRT dan LRT Jakarta, DPRD Minta DKI Tambah Subsidi | MRT Belum Dibuka untuk Komersial, Ini Alasannya |
Home jadwal bola Skor bola Zodiakmu Hari Ini dairi  

Bendera Kita Pernah Sama | Berita Tempo Hari Ini

Oleh : Admin | on Jumat, 10 Agustus 2018 07:30 WIB

Bendera Kita Pernah Sama | Berita Tempo Hari Ini

Pesepak bola Indonesia U-16, Andre Oktaviansyah (kiri), berebut bola dengan pesepak bola Malaysia U-16, Mohammad Marwan Abdul Rahman (kanan), dalam laga semifinal Piala AFF U-16 di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis, 9 Agustus 2018. Amiruddin Bagus Kahfi menjadi penentu lolosnya Indonesia lewat tendangan dari titik penalti. ANTARA/M Risyal Hidayat

Ahmad Sahidah
Dosen Senior Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia

Kontroversi soal bendera berulang. Pemain bola tim Harimau Malaya di bawah 16 tahun, Amirul Ashrafiq Hanifah, menggunakan bendera Polandia, yang mirip dengan Indonesia, dalam kejuaraan ASEAN Football Federation (AFF) U-16 di Surabaya, Jawa Timur. Pemain Malaysia itu meminta maaf. Kejadian ini mengingatkan kita pada peristiwa sebelumnya ketika bendera Merah Putih ditampilkan secara terbalik dalam buku panduan panitia SEA Games 2017 di Kuala Lumpur.

Orang-orang dari segala penjuru dan lapisan meluapkan kejengkelannya. Malah, sebuah akun organisasi resmi menyatakan pelaku mesti ditembak mati sebagai pengkhianat. Beberapa akun media sosial mengunggah bendera Malaysia, Jalur Gemilang, secara terbalik sebagai balasan.

Sebelumnya, pada pertandingan final AFF U-19 di Sidoarjo, Jawa Timur, penonton melempari skuad negeri jiran dengan botol. Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Syed Saddiq, menuntut Indonesia meminta maaf. Koleganya, Imam Nahrawi, menerima kehadiran menteri termuda itu dan bahkan sempat mengajaknya bertemu dengan Jokowi. Saddiq berharap agar di Asian Games 2018, provokasi semacam ini tidak terulang.

Tanggapan politikus Budiman Sudjatmiko dalam kasus bendera Merah Putih terbalik pada buku panduan SEA Games 2017 layak ditimbang. Alih-alih menyeret kekhilafan tersebut pada banyak isu lain, Budiman menegaskan bahwa ia menerima permintaan maaf yang dilakukan secara resmi oleh pihak penyelenggara atas dasar etika. Hubungan kedua negara serumpun ini semestinya merujuk pada etika hubungan internasional, yakni saling menghormati dan menghargai. Lagi pula, banyak orang Malaysia sendiri menyadari kesalahan tersebut dan menyoal keteledoran panitia dalam menyusun buku panduan.

Apakah isu ini perlu berhenti di sini? Tidak. Semestinya warga kedua negara sadar bahwa bendera Merah Putih dulu pernah digunakan oleh warga Semenanjung Malaysia sebagai lambang untuk menggelorakan perjuangan melawan penjajahan Inggris. Partai Kebangsaan Melayu Malaya (PKMM) berjuang bersama kaum nasionalis Indonesia untuk mengusir penjajah dan berhasrat membentuk Indonesia Raya atau Melayu Raya seraya mengerek bendera Merah Putih.

PKMM kemudian berubah menjadi Kesatuan Melayu Muda, yang dimotori oleh Ibrahim Yaacob dan Ishak Haji Muhammad, dengan corak perlawanan yang jauh lebih progresif. Bedanya dengan Sukarno dan Yamin, perjuangan orang Melayu Semenanjung didasarkan pada kecemasan rasial, sedangkan dua pejuang kemerdekaan Tanah Air berdasarkan jejak kerajaan Majapahit dan bahasa Melayu. Andaikata deklarasi kemerdekaan di Pegangsaan, Jakarta, menyertakan Semenanjung, mungkin kisah kita akan berbeda.

Namun, sejarah bercerita lain. Kaum kiri yang menjadi motor perlawanan tumbang. Malaysia merdeka melalui meja perundingan tokoh-tokoh Melayu, India, dan Tionghoa dengan sejawatnya di London. Kemudian, melalui perlombaan desain bendera, Jalur Gemilang, yang dibuat oleh Mohammed Hamzah, tanpa meninggalkan warna merah sebagai lambang keberanian dan putih bermakna kesucian, dipilih seraya menyisihkan 372 calon lain. Namun, Hishamuddin Rais, pegiat sosialis, menolak corak tersebut dan memilih bendera putih dengan bintang berjumlah 12 sebagai sang saka, sebagaimana juga dapat dilihat pada motif dasar bendera Singapura, UMNO, dan Patani.

Apapun bendera resmi Malaysia dan Indonesia, keduanya hadir menjadi pengikat identitas rakyat sebagai warga negara yang setara. Tak pelak, ketika bendera negeri jiran tersebut dibakar di depan Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta, rakyat negara tetangga memprotes keras karena bendera itu lambang harkat dan martabat. Sekarang, hal serupa terjadi dalam konteks berbeda.

Lambang-lambang sensitif ini perlu diperlakukan secara hati-hati. Lebih jauh, makna sejati dari secarik kain bukan semata-mata ada pada selembar bendera, tapi ba-gaimana nilai-nilai yang dipancarkan dari warna terlaksana dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran sejarah perlu hadir untuk mengurai kekusutan yang acap membelit dua negara serumpun ini.



Bendera Kita Pernah Sama | Bang Naga | on Jumat, 10 Agustus 2018 07:30 WIB | Rating 4.5
Cuplikan :Judul: Bendera Kita Pernah Sama
Description: Kontroversi soal bendera berulang. Pemain bola tim Harimau Malaya di bawah 16 tahun, Amirul Ashrafiq Hanifah, menggunakan bendera Polandia, yang mirip dengan Indonesia, dalam kejuaraan ASEAN Football Federation (AFF) U-16 di Surabaya, Jawa Timur.
Alamat: https://sumutkota.com/tempo/read/1115632/bendera-kita-pernah-sama.html
Artikel Terkait

Bagikan Ke : Facebook Twitter Google+

CONTENT

Karir


Nasional

» Gempa Bumi Hari Ini

menu


Tempo LIPUTAN DAIRI CNN Zodiak
© 2017 - 2019 sumutkota.com | Pers | V.DB: 3.50 | All Right Reserved

DMCA.com Protection Status

Page loads : seconds