Livi Suryani, Memulai Usaha dari Modal Kurang dari Rp 200 Ribu

Sedang Trending 4 hari yang lalu 19

UMKM Bercerita

Saya Livi Suryani, tinggal di Kampung Pitara gang Kemang, Rangkapan Jaya, Depok. Usaha saya warung sembako, nasi uduk dan gorengan serta keripik pisang. Awal memulai usaha, saat saya resign dari pekerjaan saya di salah satu perusahaan Jakarta. Alasan resign, karena saat itu saya sudah menikah, punya anak dan tak ada yang menjaganya.

Saya melewati hari-hari saya di rumah dengan rasa jenuh. Lalu terlintas di pikiran saya untuk berjualan agar ada kegiatan dan tak jenuh sembari mengurus rumah dan mengasuh anak.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Pada awalnya, suami saya tak setuju. Alasannya sudah banyak warung di sekeliling tempat tinggal saya yang pada saat itu saya tetap mengontrak. Tapi alhamdulillah saya dapat menyakinkan suami dan akhirnya menyetujui saya untuk berjualan.

Awalnya dengan modal awal yang seadanya sekeliling kurang lebih Rp 200 ribu. Saya berbelanja ke sebuah agen pada waktu itu saya membeli snack, permen, beberapa jenis es larut yang dapat langsung diseduh, seperti teh jus, pop ice. Saya berjualan seadanya di depan rumah.

Alhamdulillah laku manis, anak-anak di sekeliling lingkungan saya pada jajan di rumah saya. Seiring berjalannya waktu, permintaan dari tetangga kiri kanan pun muncul. Mereka minta saya menambah jenis jualan saya sepert rokok, gula, minyak, mie instan dan kebutuhan pokok sehari-hari lainnya. Setelah beberapa tahun upaya saya berjalan, alhamdulillah saya dan suami dapat membeli sebuah rumah. Kami pun pindah ke rumah sendiri dan melanjutkan upaya kami.

Tapi di setiap upaya niscaya ada suka dukanya. Melihat upaya saya maju, ada saja kompetitor yang tak suka. Saya pernah difitnah memakai pesugihan dukun. Hal itu sempat menurunkan penjualanan saya pada waktu itu. Suami saya juga sakit cukup lama, akibat jatuh terserempet motor pas akan berangakat kerja. Kaki bagian lututnya bermasalah sehingga dia tak dapat berjalan.

Di situ menjalankan upaya sendiri. Saya berbelanja sendiri, mengurus pengobatan suami dan juga bolak balik rumah sakit.

Saya juga harus mengurusi anak saya yang kebetulan sekolah di pondok pesantren yang cukup jauh dari rumah. Semua itu saya kerjakan sendiri. Banyak pengalaman yang tak terlupakan, salah satunya saya pernah suatu hari pulang belanja, dan kehujanan. Karena jalanan licin, motor saya jatuh tiba belanjaan saya berantakan.

Tapi alhamdulillah, saya pantang menyerah dan tetap banyak orang yang suka belanja di warung. Hasil penjualanan saya kurang lebih Rp 1 juta per hari. Dari hasil penjualan itu, saya dapat membantu pengobatan suami dan biaya sekolah anak-anak.

Alhamdulillah, setelah menjalani sakit sekian lama, kondisi suami saya semakin bagus dan akhirnya sembuh. Kami dapat berjualan lagi dan anak saya lulus dari pesantren selama enam tahun.

Ke depannya saya mau upaya saya lebih maju dan berkembang dengan omset yang bagus per harinya. Walaupun di tengah persaingan upaya lain yang ada di sekeliling upaya saya.

Saya pun teringat kata motivasi dari bapak Wakil Wali kota Depok Imam Budi Hartono, saat menyampaikan pesannya di acara Pembukaan Wira Usaha Baru Kota Depok. Beliau menyapaikan, habiskan masa gagalmu di usia muda, lanjut optimistis pantang menyerah. Jadilah pahlawan bagi keluarga dan masyarakat sekitarmu.

Insya Allah, dengan saya ikut program ini akan dapat membikin upaya saya lebih maju dan berkembang lagi. Saya memetik banyak hikmah dari apa yang telah saya lalui yakni, saat memulai upaya jangan mudah menyerah walaupun keadaan omset penjualanan sedang turun. Dan jangan ragu untuk memulai upaya sekecil apapun itu. (*1)

Saksikan Video Livi Suryani, Memulai Usaha dari Modal Kurang dari Rp 200 Ribu Selengkapnya di bawah ini:
Please Subscribe our channel