Etika Bertetangga di Era Media Sosial dan Relevansi Silaturahim Offline-Online

Sedang Trending 23 jam yang lalu 23

Era media sosial menuntut penegasan etika dalam bersilaturahim

Oleh : Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Abdul Muiz Ali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Kecanggihan teknologi virtual di era 4.0 memudahkan komunikasi atau interaksi, tanpa batasan waktu dan wilayah, yang tersambung melalui jaringat internet. 

Komunitas virtual dapat saling terhubung dan tersambung melalui Facebook, Twitter, Instagram, Youtube dan media sosial lainnya. 

Rapat-rapat krusial dapat dilakukan melalui aplikasi Zoom. Secara virtual, silaturahim dapat terjalin lanjut dengan kawan atau kerabat yang tinggal jauh dengan memanfaatkan video call. Masyarakat di belahan bumi dapat mengikuti tayangan perhelatan Piala Dunia 2022 di Qatar secara live streaming. 

Meski demikian, platfom media sosial apapun jenisnya harus kita tempatkan sebagai wasîlah (media), bukan ghâyah (tujuan) satu-satunya untuk berkomunikasi dan interakasi.

Kehangatan komunikasi dan interaksi dengan keluarga dan tetangga secara offline (nyata) tak boleh “tergantikan” dengan langkah berkomunikasi atau berinteraksi di dunia online (maya).

Sesibuk apapun, tetap harus dapat meluangkan waktu untuk berjumpa dan beriterakasi secara langsung.

Silaturahim atau interaksi secara langsung dapat dilakukan antara lain dengan langkah menghadiri sholat berjamaah di musholla atau masjid terdekat, mengikuti kegiatan rutin penduduk atau kegiatan sosial lainnya.

Tetangga dalam Islam

Perintah kewajiban berbuat bagus kepada tetangga dalam Alquran disebut secara berurutan dengan perintah menyembah Allah SWT dan larangan untuk menyekutukan-Nya. Ini artinya, dapat dipahami bahwa kewajiban berbuat bagus kepada tetangga mempunyai tempat dan perhatian yang tinggi dalam syariat Islam. 

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

"Sembahlah Allah dan janganlah anda mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan kawan sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tak menyukai orang-orang yang arogan dan membangga-banggakan diri." (QS  An-Nisa ayat 36). 

Dalam ayat di atas, selain mengandung muatan teologis, ada juga muatan perintah ibadah sosial bagus secara khusus, seperti berbuat bagus kepada kedua orang tua, atau secara umum seperti menunjukkan kepedulian sesama manusia, termasuk kepada tetangga.  

Berperilaku bagus kepada sahabat dan tetangga saat hidup di bumi menjadi salah satu parameter tingkat kebaikan seseorang di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di akhirat.

خَيْرُ الأَصحاب عِنْدَ اللَّهِ تعالى خَيْرُهُمْ لصـاحِبِهِ، وخَيْرُ الجيران عِنْدَ اللَّه تعالى خيْرُهُمْ لجارِهِ

"Sebaik-baik kawan di sisi Allah ialah yang paling bagus terhadap temannya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah ialah yang paling bagus terhadap tetangganya." (HR Ahmad). 

Baca juga: Mualaf David Iwanto, Masuk Islam Berkat Ceramah-Ceramah Zakir Naik tentang Agama 

Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wa sallam memberikan ultimatum konsekuensi terburuk bagi mereka yang menyakiti tetangganya.

وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بوَائِقَهُ  

“Demi Allah, tak sempurna imannya, demi Allah tak sempurna imannya, demi Allah tak sempurna imannya.” Rasulullah Saw. ditanya, “Siapa yang tak sempurna imannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang tetangganya tak merasa kondusif atas kejahatannya.” (HR al-Bukhari).

Dalam satu riwayat, malaikat Jibril sering mendatangi Nabi Muhammad SAW guna memberi wasiat tentang tetangga.

مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Jibril senantiasa berpesan kepadaku untuk berbuat bagus kepada tetangga, tiba saya mengira, tetangga akan ditetapkan menjadi pakar warisnya.” (HR Bukhari).   

Saksikan Video Etika Bertetangga di Era Media Sosial dan Relevansi Silaturahim Offline-Online Selengkapnya di bawah ini:
Please Subscribe our channel