Tiga Alasan Manusia tak Boleh Mengeluh atas Musibah, Said Nursi Beri Penjelasan

Sedang Trending 1 hari yang lalu 26

Tiga Alasan Manusia tak Boleh Mengeluh atas Musibah, Said Nursi Beri Penjelasan. Foto: Musibah erupsi gunung berapi di Indonesia (ilustrasi).

Foto: Antara/Irsan Mulyadi

Said Nursi memberi penjelasan orang tak boleh mengeluh atas musibah.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ulama dan pemikir asal Turki, Badiuzzaman Said Nursi mengungkapkan tiga dalih orang tak boleh mengeluh atas musibah yang dialaminya ataupun penyakit yang dideritanya. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan Nursi pada “Kalimat Kedua Puluh Enam” yang secara spesifik membahas masalah takdir.  

"Sesungguhnya orang tak berhak mengeluhkan musibah dan penyakit yang menimpanya karena tiga alasan," kata Nursi dikutip dari karya Said Nursi yang berjudul Al-Lama'at, halaman 12-13.

Pertama, menurut Nursi, Allah Ta'ala menjadikan busana eksistensi yang Dia pakaikan kepada orang sebagai petunjuk atas kreasi-Nya. Sebab, Dia menciptakan orang dalam bentuk “model” yang dipaparkan pada dirinya pakaian eksistensi, yang diganti, digunting, diubah, dan dimodifikasi untuk menjelaskan manifestasi Asmaul Husna yang beraneka ragam. 

Sebagaimana nama-Nya “Asy-Syafi" (Maha Menyembuhkan) menuntut adanya penyakit. Begitu juga “Ar- Razzaq” (Maha Pemberi Rizki), menuntut adanya rasa lapar. Demikianlah, Allah  Ta'ala ialah pemilik kerajaan. Dia berbuat dalam kerajaan-Nya apa saja yang dikehendaki-Nya.

Kedua, sesungguhnya kehidupan menjadi jernih oleh musibah dan bala, serta menjadi higienis oleh penyakit dan bencana. Semua itu menjadikan hidup mencapai kesempurnaan, kuat, meningkat, produktif, serta mencapai tujuan dan targetnya. Dengan demikian, kehidupan telah melaksanakan kewajibannya. 

Sedangkan kehidupan monoton yang hanya melangkah dengan satu corak dan melangkah di atas hamparan kenikmatan, lebih dekat kepada “ketiadaan” yang merupakan keburukan absolut ketimbang kepada “keberadaan” yang merupakan kebajikan mutlak. bahkan, ia sudah mengarah kepada ketiadaan.

Alasan ketiga, bumi merupakan medan ujian dan cobaan. Menurut Nursi, bumi ialah tempat beramal dan beribadah, bukan tempat bersenang-senang dan berleha-leha, serta bukan pula tempat menerima imbalan dan pahala. Nah, selama bumi merupakan tempat beramal dan beribadah, maka penyakit dan cobaaan—selain yang berkaitan dengan agama dan dengan syarat diterima dengan sabar—menjadi selaras dengan amal, bahkan amat harmonis dengan ibadah tersebut. Sebab, kedua hal tersebut menguatkan amal dan mengencangkan ibadah. 

"Karena itu, tak diperbolehkan mengeluhkannya. Justru kita harus bersyukur kepada Allah , karena penyakit dan musibah mentransformasi setiap jam dalam kehidupan mereka yang tertimpa musibah menjadi ibadah sehari penuh," jelas Nursi.