Ingin Hidup yang Seimbang? Jangan Lupa Luangkan Waktu untuk Diri Sendiri

Sedang Trending 1 hari yang lalu 22

Menurut psikolog kehidupan pribadi dan pekerjaan seseorang harus seimbang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Psikolog klinis dewasa Nirmala Ika Kusumaningrum menganjurkan agar pekerja tetap meluangkan waktu untuk diri sendiri. Dengan demikian tercipta keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan (work-life balance).

Nirmala mengatakan kehidupan pribadi dan pekerjaan seseorang harus seimbang. Dengan begitu, kelelahan fisik, mental, dan emosional atau burnout setidaknya dapat dihindari.

"Mulailah latih diri, minimal dalam satu hari punya waktu untuk diri sendiri. Kalau sibuk, mulailah dengan 30 menit saja, kalau dapat syukur-syukur satu jam. Namun itu rutin dilakukan. Itu menjadi sebuah habit bahwa seseorang niscaya punya waktu untuk dirinya," kata psikolog lulusan Universitas Indonesia (UI) itu saat dihubungi Antara di Jakarta pada Jumat (23/9/2022).

Ia mengatakan setiap perseorangan punya langkah yang berbeda-beda untuk menyeimbangkan hidupnya. Namun,hal tersebut harus dimulai dengan mengenali diri sendiri terlebih dahulu.

Pekerja dianjurkan untuk mengambil hari libur dalam sepekan. Jika memang tak memungkinkan karena tuntutan pekerjaan, Nirmala menyarankan setidaknya meluangkan waktu untuk diri sendiri minimal 30 menit dalam sehari dan dilakukan secara rutin.

Waktu untuk diri sendiri bukan ditafsirkan sebagai kesempatan untuk tidur. Menurut Nirmala, waktu untuk diri sendiri berarti melakukan aktivitas ringan yang disukai yang tak berkaitan dengan pekerjaan.

"Atau sekadar hanya duduk-duduk, bengong. Kasih kesempatan diri anda untuk dapat menikmati bengong itu dan tak melakukan apa pun, tapi anda menikmatinya. Atau ada orang yang memang harus bergerak, dapat pakai waktu itu untuk olahraga rutin untuk jadi kebiasaan baru," katanya.

Nirmala menambahkan sebagian orang tetap kesulitan meluangkan waktu bagi dirinya sendiri dengan dalih banyaknya beban kerja sehingga waktu sudah habis tersita. Padahal, dapat jadi masalahnya bukan terletak pada beban kerja melainkan pada beban pikiran perseorangan tersebut.

"Banyak orang dari kita itu lebih belum dapat memandang celahnya itu, kenapa? Karena sebenarnya bukan pekerjaannya yang padat, kadang di dirinya sendiri yang sudah padat. Padat dengan pikiran dia. Aku harusnya begini-begitu, sehingga dia nggak punya waktu, seluruh waktu harus didedikasikan untuk satu hal," katanya.

Menurut Nirmala, masyarakat biasa tumbuh dengan pandangan bahwa kesuksesan akan datang kalau seseorang bekerja keras, bahkan tak mengenal waktu. Pandangan tersebut keliru. Ia menekankan, bukan kerja keras melainkan kerja pandai atau smart.

Bekerja secara pandai berarti bisa memanajemen beban pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Pekerja disarankan untuk hanya konsentrasi pada hal-hal yang memang perlu dikerjakan sesuai dengan tanggung jawab dan porsinya.

"Saya setuju bahwa kita memang harus kerja smart, tak harus kerja tiba sekeras itu seperti tak kenal waktu. Kita dapat memanajemen itu. Ketika kita bicara work smart, ya, kita harus dapat memanajemen itu dan menyeimbangkan hidup itu," kata Nirmala.

Senada, psikolog klinis lulusan dari Universitas Indonesia (UI) Muthmainah Mufidah menggarisbawahi pentingnya mengenali kebutuhan diri sendiri terlebih dahulu untuk mewujudkan keseimbangan dalam kehidupan pribadi dan pekerjaan. "Kenali kebutuhan diri. Kalau badan sudah memberikan sinyal-sinyal untuk istirahat maka didengarkan, dan lakukan self-care secara rutin," katanya melalui keterangan tertulis.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini